Kelit Kelindan Setelah BBM Naik: Penglajon dan Empat Ribu yang Mengganjal Laju

Kelit Kelindan Setelah BBM Naik: Penglajon dan Empat Ribu yang Mengganjal Laju

perjuangan penglajon (komuter harian menggunakan motor) di Yogyakarta dan sekitarnya, khususnya pekerja kelas menengah bawah seperti kurir pengantar kacamata (Tian, 22) dan guru honorer (Sady, 28). Meski pekerjaan terlihat sederhana, realitanya sangat berat: jarak tempuh harian mencapai 200+ km, biaya operasional tinggi, dan kenaikan harga BBM (Pertamax naik Rp3.950 menjadi Rp16.250/liter per 10 Juni 2026) semakin memberatkan.
Zaman Gaber: Tanah dan Tubuh yang Dipindahkan (II)

Zaman Gaber: Tanah dan Tubuh yang Dipindahkan (II)

Pada awal 1960-an, Gunungkidul bukan hanya dikenal sebagai daerah tandus—tetapi sebagai lanskap krisis kemanusiaan. Zaman yang disebut “Gaber” meninggalkan jejak kelaparan, tubuh-tubuh yang disebut “madjat hidup”, dan kisah yang jarang benar-benar dibicarakan hari ini.
Zaman Gaber: Tanah dan Tubuh yang Dipindahkan (I)

Zaman Gaber: Tanah dan Tubuh yang Dipindahkan (I)

Dalam sebuah arsip tentang zaman gaber di Gunungkidul tercatat kalimat yang mengguncang: “nasi di atas tungku bisa diangkat orang.” Di bagian lain disebutkan harga tanah merosot hingga satu meter persegi setara dengan satu kilogram tepung gaplek. Catatan-catatan ini menggambarkan situasi ketika kelaparan menggerus batas kepemilikan: rumah tidak lagi aman, tanah kehilangan nilainya, dan warga desa terdorong meninggalkan kampung untuk mengemis di kota.