Penglajon (Komuter)

Di jalanan, manusia memiliki profesi yang sama: seorang pengendara biasa. Bila tiba di tempat tujuan, bergantilah rupa manusia itu. Jaket, helm, dan masker dilepas. Pin nama dan jabatan menyembul. Seragam semakin tampak. Mereka berganti rupa seorang buruh guru, buruh toko, buruh bangunan, buruh seni, buruh tulis, buruh kantor, buruh kebudayaan, dan segala rupa buruh-buruh lainnya. Itulah pengendara harian yang kerap orang-orang sebut penglajon (komuter). Penglajon bukanlah sekadar istilah, ia merupa satu kata benda yang memuat satu perasaan yang solid serta kesamaan nasib (panas, engap, debu, bising). Kecuali mereka yang sugih.
Seperti apa yang dilakoni Tian (22 tahun), seorang buruh antar kacamata asal Patuk, Gunungkidul. Saban hari, Tian mengantar kacamata dan merangkap penglajon. Tak ada tempat menginap di outletnya. Beralaskan gaji UMK, ia menelanjangi jalanan, membelah keramaian kota, berseteru dengan debu, dan menyimak tiap detik traffict light yang ada.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Selasa, 9 Juni 2026, Tian menyebutkan bahwa menjalani hidup di atas roda dalam kurun waktu yang lama bukanlah perkara yang mudah. “Meski umur saya masih muda, Mas. Tapi, dampak naik motor dengan waktu lama itu juga memengaruhi kesehatan fisik saya,” ujarnya.
Tiap pukul tujuh pagi, Tian melaju dari Patuk menuju outlet Maguwoharjo. Jarak dari Patuk ke outletnya terhitung 20 km. “Mas, Tian. Apa yang dilakukan setelah sampai di outlet?” tanyaku. Ia menjawab, dalam waktu tempuh 30-40 menit Ia datang ke outlet, mengambil kacamata sekaligus menerima daftar lokasi pelanggan yang perlu diantar. Pada Selasa, 9 Juni 2026, Tian harus mengantarkan kacamata menuju Bayat (Klaten), Kota Klaten, dan Pakis (Magelang).
Ketiga wilayah itu tak berjarak serta-merta. Bila dihitung, Patuk menuju Maguwoharjo (20 km), Maguwoharjo menuju Bayat (29 km), Bayat menuju Kota Klaten (8 km), Kota Klaten menuju Pakis (80 km). Belum lagi bila dihitung jarak yang membentang menjelang pulang dari Pakis menuju Patuk yang berjarak 75-80 km. Dalam sehari saja, Tian sudah bertungkus lumus dengan aspal sepanjang 217 km. Wajar bila ia menganggap “angin jalanan” memengaruhi kondisi fisik seseorang. Membelah 217 km bukanlah perkara mudah.

Memperoleh upah layak dan pekerjaan yang normal bukanlah hal yang mudah didapatkan untuk, saat ini. Pekerjaan sih banyak, tapi untuk kelayakannya belum tentu. Ditambah, segala macam harga kebutuhan yang naik, harga-harga itu melompat jauh dari rate harga sebelumnya. Purwarupa pajak makin ke sini, makin ke sana. Orang-orang kelimpungan mencari kerja yang layak. Sedangkan gaji? Masih tetap mungil.
Lain dengan profesi Tian, tapi senasib se-penglajon-an, ada seorang buruh guru yang bernama Sady (28 tahun). Belakangan ini, bersama obrolan dengan saya, Sady berkeluh tentang mahalnya harga bahan bakar yang menunjang keberangkatannya dari Sleman menuju Gunungkidul. “Pondasi honorer agak kurang mampu menopang harga-harga yang merangkak naik, Mas,” ujarnya.
Sady putra Gunungkidul, ia lahir dan tinggal di Kecamatan Nglipar. Sebab istrinya bekerja di Yogyakarta, ia mesti ngontrak rumah di area Sleman. Dalam seminggu, Sady naik-turun Gunungkidul-Sleman. Terkadang, ia mesti menjemput istrinya ke area Tugu (Yogyakarta). Dalam rute pulang pergi plus jemput istri, Sady menempuh jarak 60-80 km setiap harinya.

Ketika berbicara dengan Sady, ada beberapa ancaman yang bergelayutan di kepalanya: isu penghapusan guru honorer, harga bahan bakar minyak naik, dan gonjang-ganjing pendidikan profesi guru. Memang, ini era angel dhuwit, sebab itu segalanya berubah. Berubah yang tidak menyenangkan, berubah yang malah bikin semakin bubrah. Berubah yang bikin hidup kian lelah. Berubah yang membikin empati punah.
Baik Tian maupun Sady, keduanya memiliki lelaku yang sama: seorang penglajon. Tampak awam, menjadi penglajon (secara teknis) “hanya” membutuhkan kendaraan, tujuan, dan skill mengemudi standar. Sedangkan bagi pe-laku, menjadi penglajon tak sesederhana itu. Banyak hal yang perlu kurasi, ditimbang-timbang agar presisi untuk mengisi dapur.
Hal-hal yang perlu ditimbang agar presisi itu beranak-pinak. Dari skill mengemudi yang standar merembet pada perhitungan servis motor tiap bulan, bekal makanan harian, isi ulang bahan bakar, ganti ban, resiko perjalanan, jaminan kesehatan, ketahanan mental, dan purwarupa uborampe penglajon sejenisnya.
Empat Ribu yang Mengganjal Laju

Sebetulnya, nggak empat ribu-empat ribu amat, sih. Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax RON 92 sebesar Rp 3.950 per liter, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250. Lekas 10 Juni 2026 dan seterusnya, bagi penglajon, jumlah itu terasa lebih mahal dari sebelumnya.
Karl Marx sempat bicara ihwal alienasi, satu kondisi di mana pekerja terputus dari hasil kerjanya, dari proses produksinya, dari dirinya sendiri. Bila terbilang para penglajon itu bekerja, ya, mereka bekerja. Tapi, perlahan, sebab hitung-hitungan yang nggak sinkron dengan kebutuhan, rasa-rasanya yang mereka kerjakan itu muspra saja. Terasing.
Kita tak sedang hidup dalam belenggu zaman batu yang tiap hari (untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain) hanya mengandalkan jalan kaki sebagai pondasi. Kini, orang-orang dengan mudah berpindah dari sini ke sana. Distribusi adalah hal utama. Banyak partikel primer penunjang perpindahan itu, salah satunya bahan bakar minyak.
Dalam kerangka modal sosiologi Pierre Bourdieu, ada yang disebut capital dalam beragam bentuk modal. Ada modal ekonomi, modal sosial, dan modal budaya. Penglajon memiliki satu modal yang paling berharga dan rentan: tubuh. Tubuh termasuk dalam modal ekonomi cum investasi. Tubuh yang sehat, dan dapat bangun pukul lima, yang masih mampu menempuh 80 kilometer per hari di atas motor. Itu indah.
Per tulisan ini ditulis, topik bahan bakar minyak memenuhi linimasa. Sebab, kenaikan harga BBM berimbas dalam sektor-sektor lain. Segala bidang memerlukan perpindahan cum transportasi. Lewat kenaikan harga BBM itu, harga-harga bahan pokok turut naik.
Mari kita hitung-hitung kasar. Tian mengantarkan pesanan. Ia tinggal di Patuk. Rata-rata yang ditempuh per harinya adalah 80 km. Motor metik Honda Beat-nya mengonsumsi sekira 1 liter per 40 km.
Sebelum kenaikan (Pertamax Rp 12.300/liter):
Konsumsi BBM harian: 2 liter
Biaya BBM per hari: Rp 24.600
Biaya BBM per bulan (22 hari kerja): Rp 541.200
Setelah kenaikan (Pertamax Rp 16.250/liter):
Konsumsi BBM harian: 2 liter
Biaya BBM per hari: Rp 32.500
Biaya BBM per bulan (22 hari kerja): Rp 715.000
Selisih per bulan: Rp 173.800
Jika menggunakan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota) Sleman sebesar Rp 2.624.387 per bulan, Tian mesti menyerahkan sekitar 27,25 % gajinya hanya untuk membeli bahan bakar agar bisa berangkat kerja.
Tapi itu belum selesai. Tambahkan biaya parkir Rp 5.000 per hari (Rp 110.000/bulan), biaya makan siang Rp 20.000 per hari jika ia tak membawa bekal (Rp 440.000/bulan), dan biaya perawatan motor minimal Rp 100.000 per bulan untuk oli dan servis ringan. Total pengeluaran untuk berangkat kerja sekitar Rp 1.365.000.
Artinya, sekitar 52 % gaji Tian habis untuk berangkat kerja. Yang tersisa hanyalah Rp 1.259.387 atau sekitar 47,99 % dari pendapatannya. Abraham Maslow dalam hierarki kebutuhannya pada 1943 (A Theory of Human Motivation) menyebut bahwa kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan) adalah pondasi paling dasar. Kira-kira, atase angka Rp 1259.387 untuk sekeluarga selama satu bulan itu apakah cukup?

Harga bahan bakar minyak di Indonesia tak pernah sekadar soal ekonomi. Merangkaknya harga minyak menjadi cermin kondisi politik, ukuran kepercayaan rakyat kepada pemangku kebijakan, dan lebih seringnya menjadi pemicu perubahan sejarah.
Sepertinya, banyak Tian-tian dan Sady-sady di luar sana yang bernasib sama. Orang-orang yang tak memiliki banyak pilihan. Orang-orang yang sendhika sebab kahanan. Orang-orang yang tetap mencoba bertahan meski melelahkan. Orang-orang yang kurang diorangkan. Suarakan dan bicarakan. Berani berbicara tentang keresahan sehari-hari tak selalu menjadi tanda bahwa kita kurang bersyukur. Ini adalah upaya mempreteli kemiskinan-kemiskinan struktural yang kadang terasa normal sebab dibenturkan dengan rasa syukur. Kita sedang dihisap, pelan, perlahan, dan tak terasa. Itu.
