Dapur, Sumur dan Kapur

Dapur, Sumur dan Kapur

Bagikan ke :
Sumur milik Pak Purbadi di Padukuhan Keblak, Ngeposari, Semanu Gunungkidul, ini diperkirakan sudah berusia lebih dari 100 tahun dengan kedalaman sekitar 23 meter. – Dokumentasi oleh sumurgunungkidul

Hampir semua wilayah Gunungkidul memiliki sumur. Secara topografi wilayah, Gunungkidul terbagi menjadi 3. Wilayah itu adalah Batur Agung Utara (sisi utara Kabupaten Gunungkidul), Ledhoksaren (pusat ibu kota Kabupaten Gunungkidul), dan Gunungsewu (pegunungan sisi selatan area karst hingga tepi laut). Di ketiga wilayah tersebut terdapat sumur. Tapi, jumlah sumur di area Gunungsewu jauh lebih sedikit dibandingkan dua wilayah lainnya. Kontur tanah, curah hujan, dan topografi wilayah cukup berpengaruh. 

Setidaknya, ada tiga hal yang sejak lama menyusun kehidupan masyarakat Gunungkidul (dapur, sumur, dan kapur). Seolah ketiganya berdiri lewat kata yang mengandung makna masing-masing. Dapur adalah ruang domestik, sumur merupakan sumber air, sedangkan kapur adalah bentang geologi yang melengkapi lanskap Kabupaten Gunungkidul. 

Sumur yang berada di Pasar Manuk Munggi (timur MTsN Semanu) – Dokumentasi oleh sumurgunungkidul

Namun, bila dilihat lewat perspektif antropologi dan ekologi, ketiganya membentuk satu kesatuan sistem kehidupan. Kapur menentukan bagaimana air tersimpan di dalam bumi. Sumur menjadi cara manusia berkompromi dengan kondisi ekologi yang ada. Sedangkan dapur merupakan ruang tempat hasil negosiasi itu diolah menjadi kehidupan sehari-hari. 

Hubungan antara sumur dan kehidupan sosial juga sangat kuat. Sebelum air mengalir melalui keran di dalam rumah, setiap keluarga harus mendatangi sumur. Aktivitas yang dilakukan berulang setiap hari itu menciptakan ruang perjumpaan. Orang saling mengenal, bertukar cerita, menyampaikan kabar, hingga menyelesaikan persoalan-persoalan kecil. 

sumur tertua di Padukuhan Keblak, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul. Sumur milik Mbah Arjo Suroto ini diperkirakan sudah berusia lebih dari 100 tahun. Kedalaman sekitar 25 meter. – Dokumentasi oleh sumurgunungkidul

Dalam istilah sosiolog Ray Oldenburg, ruang seperti itu dapat dipahami sebagai third place, yakni ruang sosial di luar rumah dan tempat kerja yang memungkinkan masyarakat membangun ikatan sosial. Jika warung menjadi third place masyarakat modern, maka sumur pernah memainkan fungsi serupa dalam kehidupan desa Jawa.

Jika sumur menjadi titik temu manusia dengan air, maka dapur merupakan ruang tempat air memperoleh makna sosialnya. Dalam antropologi rumah tangga jawa, dapur bukan hanya tempat memasak, melainkan pusat reproduksi kehidupan keluarga. 

Seluruh hasil pertanian diolah melalui kerja domestik. Air yang ditimba dari sumur berpindah ke dapur untuk merebus, mengukus, mencuci, dan menghidangkan makanan. Lewat proses itulah batu kapur yang tandus akhirnya berubah menjadi kehidupan.

Sumur tua ini milik Mbah Noto Utomo di Padukuhan Keblak, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul. – Dokumentasi oleh sumurgunungkidul

Dalam pandangan kosmologi Jawa, air bukan sekadar benda alam, melainkan bagian dari keseimbangan jagad. Manusia dipahami hidup di antara hubungan yang saling terikat: dengan sesama, dengan alam, dan dengan Yang Mahakuasa. Karena itu, memperlakukan air berarti memperlakukan kehidupan itu sendiri. 

Antropolog Koentjaraningrat mencatat bahwa masyarakat Jawa mengenal berbagai laku dan pantangan yang berkaitan dengan mata air, sungai, maupun sumur. Sebagian mungkin dipahami sebagai mitos, tetapi fungsi sosialnya jelas untuk membangun penghormatan terhadap sumber kehidupan agar tidak dieksploitasi secara serampangan. Apa yang hari ini disebut konservasi lingkungan, pada masa lalu hidup dalam bentuk adat.

Paseduluran Nandur Banyu dan Deruk Cemung berada di sumur daerah karangmaja – Dokumentasi oleh Nandur Banyu

Saat ini, akses terhadap air terkesan lebih mudah dibanding puluhan tahun lalu. Masyarakat desa-kota menandai datangnya air lewat tagihan bulanan PAM (Perusahaan Air Minum). Bukan lewat sumur. Ratusan meter pipa tersambung, menghubungkan satu titik sumber mata air menuju dapur-dapur. Ada pula yang sengaja menambah pipa-pipa. Umumnya, tambahan pipa itu milik mereka yang punya cadangan dana. 

Alam bawah sadar pemilik tagihan seolah berkata demikian, “Tak mampu membayar, tak dapatkan air. Mampu membayar, air berlimpah,” Sebab demikian, upaya sadar untuk merawat mandala toya (sumur) teracuhkan. Sibuk mencari hitungan untuk merawat air. Mereka yang bertugas merawat sumber air adalah mereka yang dibayar. Silang sengkarut antara tagihan dan kesadaran lingkungan.   

Sumur tua di semin, Gunungkidul -Dokumentasi oleh Nandur Banyu

Keberadaan sumur juga memperlihatkan hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Sumur hanya akan menghasilkan air apabila daerah resapan tetap terjaga. Ketika hutan ditebang, sawah berubah menjadi beton, dan tanah kehilangan kemampuan menyerap air hujan, permukaan air tanah akan turun. Data berbagai kajian hidrologi di Pulau Jawa menunjukkan bahwa eksploitasi air tanah dan alih fungsi lahan telah menyebabkan penurunan muka air tanah di banyak kawasan, terutama di wilayah perkotaan.

Ironisnya, modernisasi mulai mengubah hubungan itu. Masuknya jaringan perpipaan, pompa listrik, serta komodifikasi air membuat sumur perlahan kehilangan fungsi sosialnya. Dapur pun mengalami transformasi melalui pangan instan dan bahan makanan industri yang semakin menjauh dari siklus ekologis lokal. Pada saat yang sama, kawasan karst menghadapi tekanan baru berupa pembangunan, penambangan batu kapur, pencemaran air tanah, dan meningkatnya aktivitas manusia yang mengancam kualitas sungai bawah tanah. Begitu.

Agenda besik sumur di Wanasari, Gunungkidul – Dokumentasi oleh Nandur Banyu
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *