
Langit tak mendung sedikitpun, matahari terpancang dengan gagah. Suasana itu terjadi beberapa waktu lalu, dalam naungan salah satu akhir pekan bulan Syawal 2025. Guna menjajal udara pagi, saya bergegas mengambil kunci sepeda motor dan menuju Dusun Purwa, Desa Karangsari, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul.
Dusun Purwa, salahsatu dusun yang berada di dataran tinggi Gunungkidul. Letaknya di pucuk gunung deretan bukit yang membentang sepanjang timur laut Gunungkidul. Dusun ini memiliki Topografi wilayah perbukitan. Seiring berkembangnya waktu, barisan bukit itu dihuni oleh masyarakat. Akhirnya, terbentuklah perkampungan berkelompok yang mengikuti karakteristik lahan.

“Purwa” bermakna: dahulu, wiwit (awal-awal), zaman kuno. Beberapa masyarakat juga menyebut Dusun Purwa dengan istilah Pruwa, padanan kata dari Purwa. Kondisi geologis perkampungan ini serupa dengan Gunung Nglanggeran. Tersusun atas batuan vulkanik tua yang membentuk gunung api purba. Barangkali, dulu Dusun Purwa adalah bakal gunung berapi. Sebab, di sana banyak ditemukan batuan andesit.
Bila hendak menuju Dusun Purwa, kita harus melewati jalanan corblock yang menanjak, berkelok, dengan lebar 2,5 meter. Sepanjang kanan kiri jalan hanya tegalan ditumbuhi banyak kayu jati, lahan sawah di beberapa tempat tertentu, dan pemukiman model joglo atau rumah atap lawasan mengikuti kontur tanah. Dibutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di Dusun Purwa (dari jalan utama Karangsari – Manyaran) menggunakan sepeda motor.
Ketika tiba di Dusun Purwa matahari cukup terik, tanpa mlipir, tujuannya langsung ke Sumber Kali Kidul. Sumber Kali Kidul adalah salah satu sumber mata air di Dusun Purwa yang terletak di sisi selatan perkampungan. Lokasinya terpisah dengan pemukiman warga, untuk mencapainya harus melewati jalan tanah setapak, searah dengan jalan menuju sawah dan ladang, juga dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua.

Di sekitar Sumber Kali Kidul terdapat pohon penjaga, Wungu di sisi barat dan Duwet di sisi timur. Konon, terdapat pohon besar yang tumbuh di atas bongkahan batu dekat sungai samping sumber. Akarnya sanggup menutupi seluruh permukaan batu. Konon, dulu terdapat Pohon Waung di sisi selatan yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan panjang ilang. Kini telah mati, tersisa ceritanya saja. “Namun, di bekas Pohon Waung tumbuh, terdapat Pohon Jambe sebagai pengganti untuk meletakkan panjang ilang,” tutur Mas Marji salah satu kawan baik di Dusun Purwa.
Saya datang ke Dusun Purwa ditemani Mas Nyemuk. Sejenak sembari melepas lelah, segera Mas Nyemuk mempersiapkan perapian untuk memasak air minum di dekat balai samping pohon duwet. Kawan – kawan Purwa telah berangkat terlebih dahulu untuk melihat dan memantau bibit–bibit pohon yang telah ditanam. Diambilnya air dari Sumber Kali Kidul dengan menimba menggunakan tong ember kecil bekas cat. Kemudian dituangnya ke dalam ceret yang biasa dipakai untuk memasak.

Suasana di sekitar Sumber Kali Kidul sangat sejuk, terlihat beberapa jenis tanaman yang ditanam November 2024 lalu tumbuh riyung–riyung. Terdapat beragam tanaman di lokasi tersebut: Bibisan, Wungu, Pilo, Karet kebo, Bulu, Kemiri, Lerak, Loa, Walisanga, Kayu lanang, Putat, Asem, Kepuh, Larasetu dan beberapa tanaman lainnya. Sungguh membuat hati siapa yang tak bergembira melihat tanaman tumbuh dari kesuburan tanah di Sumber Kali Kidul ini. Tanah yang diberkati. Menurut cerita, Ki Ageng Samin dan Mbah Lami-ah yang pertama kali menempati Sumber Kali Kidul. Sedangkan Mbah Iman Kasman sebagai sesepuh cikal bakal yang membangun sumur di Sumber Kali Kidul.
Sumber Kali Kidul berupa sumur yang berbentuk segi empat dengan tepi–tepinya disusun menggunakan balok– balok watu giring, serta dilengkapi payon atau atap untuk melindungi air sumber dari kotoran daun atau ranting yang jatuh. Di dekatnya terdapat watu giring yang sudah terkiris dan membentuk dua cekungan yang sejak dulu dijadikan umpak atau ganjel sebagai alas untuk menompang kleting, wadah air yang terbuat dari tanah liat untuk mengambil air dari sumber atau sungai. Tak jauh dari sumber tersisa satu genthongan, sebuah wadah seperti bak air terbuka dengan ukuran yang tidak terlalu besar, biasa digunakan sebagai tempat untuk mencuci gaplek, ketika musim panen singkong di bulan kemarau, sementara genthongan yang lain telah hilang, hanyut terbawa banjir air sungai ketika musim penghujan.
Tak selang lama, datang seorang perempuan tua, Mbah Marsih akrab dipanggil hendak ngangsu, mengambil air dari sumber. Mas Nyemuk menyapanya dengan ramah.

“Mendet toya mbah?” disapanya Mbah Marsih. “Nggih pak”, timpal Mbah Marsih.
Obrolan berlanjut.
Mbah Marsih menceritakan masa–masa dulu ketika ngangsu air dari Sumber Kali Kidul. Mbah Marsih tinggal seorang diri, suaminya telah meninggal sementara anaknya dalam perantauan di kota. Kondisinya masih sangat sehat, mungkin karena Mbah Marsih nyirik, menghindari konsumsi makanan seperti sawo, tape, dan ketan sehingga masih kuat untuk ngangsu air di Sumber Kali Kidul.



Menurut tutur cerita Mbah Marsih, konon di Sumber Kali Kidul terdapat oleh seekor ula weling. Biasanya ia mbundel, bertempat di sela – sela waru giring yang ada di sumur, di pohon wungu, atau di celah pohon duwet. Pernah suatu hari ketika surup, waktu petang Mbah Marsih datang untuk mengambil air dengan menggunakan klenting, beliau nembung dengan yang mbaureksa Sumber Kali Kidul dan dilihatkan ular weling di dekat sumber. Dalam kondisi panik dan tergesa – gesa Mbah Marsih segera menyelesaikan timbaan airnya yang masih sekincleng belum penuh. “Mbah, aja ngganggu putumu ki arep ngombe, ma uku gur setitik diendom, la tek koe ditembungi malah teka”, cerita Mbah Marsih. Sejak saat itu Mbah Marsih tidak pernah mengambil air ketika petang datang.


Mbah Marsih yang lahir sekitar tahun 1940 – an, menuturkan pernah mengalami jaman geber, krisis pangan ketika masih berusia usia 13 tahun, yang terjadi di Gunungkidul pada tahun 1960 – an. Pernah suatu ketika saat musim kemarau Mbah Marsih harus membawa bekal makanan untuk ikut mengantre berjam – jam di Sumber Kali Kidul demi memperoleh air untuk minum. Tidak ada pipa saluran yang menyalurkan air dari sumber. Warga masih menimba dengan manual, termasuk Mbah Marsih. Beliau tidak pernah mengambil air dengan volume yang banyak, sekiranya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sebagai mana warga yang lain agar air yang berada di Sumber Kali Kidul dapat digunakan oleh seluruh warga Purwa. Sak madya.
Ketika hendak mengambil air pun ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan, seperti ngore, mengurai rambut, tidak boleh memakai topi atau bertutup kepala, jika dilanggar maka yang mbaureksa Sumber Kali Kidul akan marah. Demikian hingga saat ini warga mempercayai hal tersebut sehingga Sumber Kali Kidul masih terjaga dan dirumat kesuciannya.

Sebagaimana terjadi di dusun tetangga Mbah Marsih bercerita tentang sumber air di Beji salah satunya. Suatu ketika air sumber hendak di salurkan menggunakan pipa namun yang mbaureksa tidak berkenan hingga air tidak mengalir hampir selama dua tahun lamanya. Hingga suatu hari ketika air mengalir berubah warna menjadi merah. Beberapa masyarakat mengira karena pengaruh dari daun jati. Hal ini mengisyaratkan bahwa sumber harus dibersihan, atau dilakukan bersik agar mata air tetap terjaga serta menggunakan air secukupnya meski telah terpasang saluran air, sak madya untuk kebutuhan sehari – hari. Cerita lain, di sumber Kulon Ndeso, pernah ada orang memburu ikan gateng, namun malang ketika telah mendapatkan ikan yang menjaga mata air, kemalangan terjadi pada orang yang tersebut. Tentu kejadian – kejadikan tersebut syarat akan arti dan makna, kita tidak boleh mengambil, mengganggu, bahkan merusak sesuatu yang menjaga di sebuah tempat sehingga tidak akan menimbulkan angkara murka, kemarahan dari mbah yang mbaureksa. Begitulah tutur Mbah Marsih, galon lemineral yang dipakainya untuk wadah air telah penuh, beliau pamit pulang.

Sebagaimana yang menjaga Sumber Kali Kidul mbah ula weling tidak pernah mengganggu warga Purwa yang mengambil air dari sumber. Namun sudah lama ia tak pernah lagi menampakkan diri di sekitar sumber. Namun hingga saat ini masyarakat Purwa masih percaya jika ula weling masih ada di sekirar Sumber Kali Kidul dan bersemayam di growongan batang pohon duwet.
Di masa sekarang, yang menjaga ini sering disandingkan dengan kehidupan sebagai mitologi yang telah mengakar di masyarakat. Menjadi pegangan untuk tetap hidup selaras, dan searah dengan ajaran simbah – simbah terdahulu agar tercipta kehidupan ekologi yang seimbang. Seperti halnya mbah ula weling yang menjaga Sumber Kali Kidul, tutur Mbah Marsih mengajarkan tentang pentingnya menjaga kesimbangan antara alam, dan manusia.
Editor: B. Kertawhani
