Pohon Asam Jawa: Dari Kuliner dan Jamu Tradisional hingga Sastra Jawa

Pohon Asam Jawa: Dari Kuliner dan Jamu Tradisional hingga Sastra Jawa

Bagikan ke :

Permukaan Kulit pohon yang kasar, orang sering menyamakannya dengan kulit hewan buaya. Batang pohonnya tinggi menjulang dengan daun kecil yang rapat memberi kesan nyaman dan teduh dari paparan panas matahari yang membakar. Seluruh bagian dari pohon asam Jawa mulai dari daun, kayu, buah sampai bijinya memiliki fungsi dan filosofi yang amat beragam.

(Foto: daksina_arga)

Pohon asam Jawa bernama latin Tamarindus Indica, yang sering juga disebut asam kawak. Pohon asam Jawa menghasilkan buah berbentuk panjang menyerupai buah kedelai. Buahnya berwarna coklat seperti gula Jawa, rasa buahnya asam yang khas. Pada masa kanak-kanak  saya sering memakan buah asam Jawa yang jatuh di bawah pohonnya di tepi sungai yang mengalirkan air jernih, tempat saya dan teman masa kecil mandi dan berenang.

Masa itu sangat melekat dalam ingatan saya. Sebelum berenang, saya dan teman-teman lomba berlari menuju bawah pohon asam Jawa, tentu dengan tujuan mendapatkan buah asam yang lebih banyak dari teman lain. Di tengah mandi dan berenang kami memakan buah asam ini. Buah asam masuk ke dalam mulut kami, dan otomatis rasa asam langsung menyergap di dalam mulut. Tanpa sadar kepala bergidik, mata terpejam, air ludah mengalir dengan cepat. 

Buah asam Jawa untuk bumbu kuliner

Dunia kuliner telah sejak lama menggunakan asam Jawa sebagai bumbu penyedap masakan. Misalnya adalah kuliner yang bersifat makanan ringan atau cemilan yang dimasak tanpa menggunakan panas api. Olahan rujak, lotis, gado-gado, lotek, pecel menggunakan buah asam Jawa sebagai bumbu agar lebih segar di lidah penikmatnya. Berpadu dengan bumbu kacang tanah, asam Jawa disangrai bersama rempah-rempah penambah rasa nikmat, misalnya: kencur dan temu poh; yang disebut juga kunyit putih. Olahan masakan berat yang terhidang bersama nasi juga sering menggunakan bumbu asam Jawa. Contohnya adalah sayur sop, sayur asam atau olahan urab “brambang asam” yang berbahan dasar daun ubi jalar yang direbus setengah matang. 

(Foto: daksina_arga)

Daun asam Jawa juga sering digunakan sebagai bumbu masakan yang dibakar di dalam daun. Misalnya adalah olahan pepes ikan. Di Gunungkidul sendiri, memasak ikan dengan daun pisang yang dimasak menggunakan bara api bernama “linthing”. Dahulu kala, sungai pancuran di kawasan kecamatan Wonosari sampai wilayah kali Gowang kecamatan Paliyan adalah sungai yang banyak ikan belut lokal. Ayah saya adalah seorang pencari ikan bersisik dan ikan belut. Ia lebih senang memasak ikan hasil tangkapannya dengan cara dilinthing. 

Cara melinthing Ikan belut ialah: belut dipotong kecil-kecil kemudian ditaburi sedikit garam, kemudian ditambah dengan daun asam Jawa tua dan muda, setelah itu dibungkus dua lembar daun pisang. Khasiat dari daun asam Jawa antara lain untuk menghilangkan amis khas belut lokal yang menyengat.

Olahan linthing sangat nikmat disajikan bersama nasi dan teh panas. Tidak sebatas itu saja, kearifan lokal makanan Kabupaten Gunungkidul juga meliputi jamur liar yang tumbuh di musim hujan, seperti jamur barat yang bernama latin Clitocybe Nebularis. Jamur ini disebut juga sebagai jamur corong awan. Jamur ini juga kerap dilinthing dengan daun asam Jawa sebagai bumbunya. 

Buah asam Jawa untuk kesehatan

Olahan jamu tradisional asam Jawa dicampur dengan kunir kuning telah ada sejak lama. Jamu ini diolah dengan cara sederhana, menggunakan lumpang dan parutan manual, di dapur yang sederhana pula. Kegiatan memasak jamu asam sering kali dilakukan oleh seorang perempuan yang telah berusia lanjut. Cara penjualan jamu ini juga dilakukan secara tradisional, yakni dengan cara digendong menggunakan tenggok keliling kampung. Oleh karena itu muncul istilah jamu gendhong.

Hari ini metode penjualan jamu tradisional lebih beragam, jamu dikemas lebih menawan agar memancing minat pembeli: misalnya disajikan menggunakan batok kelapa. Di zaman sekarang, para pemodal besar mengemas jamu instan berbentuk bubuk agar dapat menjangkau pasar-pasar moderen dan pusat perbelanjaan di kota besar. Cara pengemasan seperti ini tentu mempermudah para konsumen dalam mendapatkan manfaat jamu tradisional.

Wajar bila jamu tradisional kunyit asam ini banyak digemari masyarakat. Apalagi dengan sensasi rasa yang menggiurkan. Perpaduan manis dan asam membuat anda tak perlu lagi takut dengan rasa pahit yang biasanya muncul saat meneguknya.

Jamu kunyit asam memiliki khasiat diantaranya: mengurangi nyeri haid, mencegah risiko kanker, meredakan radang, mengatasi keputihan, menurunkan kadar gula, mengatasi perut kembung, meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi bau badan, sampai meningkatkan daya ingat, dan masih banyak manfaat lainnya. 

Pohon asam Jawa dalam tata ruang dan sastra Jawa

Di dalam sastra Jawa pohon asam Jawa memiliki kandungan ilmu yang bermakna luhur. Setiap sisi dan bagian pohon asam jawa diambil dan digunakan sebagai makna simbol serta perumpamaan kehidupan Jawa. 

(Foto: daksina_arga)

Pohon asam Jawan dalam jarwa dhosok

Jarwa dhosok berasal dari kata jarwa yang artinya penjabaran atau keterangan, dan dhosok yang berarti mendesak maju. Jarwa dhosok dapat diartikan keterangan menurut penjabaran kata dengan dikira-kira atau menurut pikiran orang yang menerangkan. Istilah lainnya adalah mengartikan sebuah benda bergantung dengan kebutuhan pengartiannnya. Contohnya adalah cangkir yang jarwa dhosoknya adalah: nyancang pikir.

Lebih dari itu, daun asam Jawa yang masih muda dapat disebut sinom. Daun ini berwarna kuning gading. Sinom juga menjadi salah satu bait dalam tembang macapat. Macapat adalah bait syair yang digunakan sebagai penggambaran awal mula kehidupan sampai akhir kehidupan. Jarwa dhosok dari sinom adalah: tasih anom (masih muda). 

Jarwa dhosok dari asam itu sendiri adalah: akarya sengsem, berarti membuat terpesona, dalam penjabarannya: pohon asam dapat membuat terpesona orang yang memandang. Jika pohon asam tumbuh di sekitar rumah maka akan membuat orang yang datang bertamu terpesona. Dengan makna terpesona secara lahir karena tata ruang dan bangunan huni yang indah. Sedangkan makna terpesona secara batin adalah terpesona dengan keramahan, kesopanan dan budipekerti pemilik rumah. Tak mengherankan jika di tempat-tempat strategis, atau di depan bangunan huni sering ditanami pohon asam Jawa, misalnya di kawasan sumbu filosofi kota jogjakarta. 

Dalam prakteknya, jarwa dhosok bisa terucap sendiri atau bersamaan. Contoh katanya adalah: Bocah kae sregep dasare pancen asem sinom. Kalimat tersebut bermakna orang muda yang giat bekerja dan mempesona. 

Pasemon 

Pasemon adalah teknik membandingkan objek dengan objek lain menggunakan cara halus dan semu tanpa bersinggungan langsung. Pasemon dimaksudkan agar arahan atau nasehat dapat diberikan tanpa menggurui secara langsung. Cara ini digunakan sebagai upaya agar tidak ada yang tersinggung dan terluka batinnya. Salah satu pasemon yang memiliki unsur pohon asam Jawa adalah: klungsu-klungsu waton udhu.

Pohon asam Jawa konon memiliki daya energi yang cenderung positif

Banyak pemilik pusaka di Jawa yang memakai kayu asam Jawa sebagai warangka (rumah pusaka). Pohon asam Jawa dipilih sebagai warangka karena kayu asam Jawa yang berumur tua dan keras memiliki tekstur gambar yang indah. Warangka yang memiliki tekstur gambar indah disebut dengan “pamor warangka” atau “pamor landeyan”. Sedangkan inti dari kayu asam Jawa disebut “galih asem” atau hati asam jawa, berwarna coklat tua atau hitam. Orang Jawa percaya energi yang dipancarkan galih asem dapat membawa keberuntungan, penolak bala, dan penarik welas asih. Tak mengherankan jika pohon asam Jawa begitu diagungkan dan sakral di Gunungkidul. 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *