Siasat Mengingat Kembali Identitas Kampung Halaman Melalui Buku “Sambatan: Pringamba Setiap Hari” karya Rohmat Gilang Rosady

Siasat Mengingat Kembali Identitas Kampung Halaman Melalui Buku “Sambatan: Pringamba Setiap Hari” karya Rohmat Gilang Rosady

Bagikan ke :
(Foto Rohmat Gilang Rosady)
(Foto Rohmat Gilang Rosady)

“Tanpa arsip, sejarah bisa dimanipulasi. Tanpa dokumentasi, identitas bisa hilang” – Benedict Anderson

Cukup banyak pengetahuan dan kebijaksanaan lokal yang luput dari sorotan media mainstream hari ini. Rumusan, metode, pola, rima, dan karya cipta orang-orang dusun acap dianggap sebagai penghambat kata “pembangunan”. Kekayaan lokal yang memiliki nilai-nilai adiluhung justru dipandang terbelakang dan tidak relevan.

Selain itu, gegap gempita layar kaca yang konsisten menyodorkan ritus kontemporer serta maraknya alat-alat impor secara perlahan tapi pasti turut mendukung dalam melucuti identitas sebagian kawula muda hari ini. Akhirnya, tak sedikit anak muda yang justru lebih akrab dengan kebiasaan “asing” daripada kebiasaan para leluhurnya sendiri.

Di balik arus media utama yang kian menebalkan stigma orang-orang di pelosok dusun itu,   Rohmat Gilang Rosady seperti menolak tunduk. Dia mencoba menawarkan siasat lain. Dalam bukunya “Sambatan: Pringamba Setiap Hari”, anak kandung Pringamba itu berupaya menjadi (sebenar-benarnya) orang dusun biasa. Bukan untuk anti yang “maju-maju”, tapi berusaha mengingat/merawat kembali pengetahuan serta kebijakan lokal yang ada di tanah kelahirannya.

Potret sebuah dusun di puncak bukit yang penuh kerja-kerja kolektif

Buku “Sambatan” yang dirilis akhir Mei 2025 lalu ini berisi jurnal foto serta cerita kehidupan warga Pringamba, Kalurahan Natah, Nglipar, Gunungkidul. Buku ini terbagi menjadi beberapa fregmen.

Masing-masing bab memotret rutinitas apa saja yang memiliki “nilai” di Pringamba. Seperti mengabadikan kebiasaan sambatan (meminta tolong/gotong-royong), sumber air, lemah (tanah), pangupajiwa (mata pencaharian), gugur-gunung, rewang, kempalan (perkumpulan/pertemuan), riyaya (hari raya), hingga kesenian reyog.

(Foto Rohmat Gilang Rosady)
(Foto Rohmat Gilang Rosady)

Ya, buku berukuran 14,8 x 21 cm ini merekam kerja-kerja kolektif yang dilakukan masyarakat Pringamba. Sebagai warga yang masih satu trah (memiliki hubungan darah), kebiasaan sambatan/gotong-royong di Pringamba masih sangat kuat dan lestari. Ketika salah seorang warga nduwe gawe (punya acara), sudah bisa dipastikan tetangga sekitar akan turut membantu. Tentunya semua itu dilakukan secara sukarela.

Membaca buku Sambatan juga membuat saya merasa lega. Banyak sudut-sudut yang jarang diliput dan akhirnya muncul di jurnal ini. Seperti halnya cerita sopir truk dump yang setiap hari pasaran tertentu akan mengangkut hasil bumi/membawa warga ke pasar. Sebuah pemandangan khas masyarakat pedesaan yang cukup sering kita temukan tetapi kadang terabaikan.

Buku yang menolak lupa dengan sejarah dan jati diri sebagai manusia dusun

Keberpihakan Gilang Rosady kepada “warga biasa” sangat terasa di buku ini. Ketika roda zaman mendesak tiap orang untuk selalu menampilkan lift, eskalator, dan gedung-gedung kaca menjulang–dengan senang hati penulis memperlihatkan tenggok, pacul, gubug bambu, pawon, hingga kandang sapi di kampung halaman. Biasa, sewajarnya, dan memang begitu adanya.

(Foto: Rohmat Gilang Rosady)
(Foto: Rohmat Gilang Rosady)

Melalui buku setebal 231 halaman ini, saya rasa Gilang Rosady dan dulur-dulur Pringamba juga berhasil mengubah angle mata kamera. Saat mayoritas variety show televisi kerap mempertontonkan video simbah-simbah ngarit dengan backsound nada-nada minor, di buku ini orang-orang dusun justru merayakan dengan jujur dan riang gembira. Perasaan tulus/bahagia manusia Gunungkidul yang mustahil diraba oleh para pemburu engagement dan angka-angka.

Barangkali sudah waktunya setiap orang kembali menggali/mengenal/merawat kampung halamannya sendiri. Kita tahu di tengah arus media mainstream yang penuh topeng ini, rentan membuat manusia kehilangan jati dirinya. Maka, dengan hadirnya buku Sambatan paling tidak bisa menjadi upaya untuk mengingat kembali bahwa kita (pernah) lahir di tengah-tengah orang yang lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas keinginan pribadi.

Saya rasa buku ini layak dibaca oleh semua kalangan. Bukan hanya warga Gunungkidul saja, tapi juga mereka yang menolak kehilangan sejarah serta identitasnya sebagai manusia dusun.

Lestari sambatan! Rahayu warga dusun ! Pringamba setiap hari!

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *