
Bertani dan beternak menjadi kerja keseharian masyarakat Gunungkidul. Bukan beternak skala besar sebagai usaha bisnis, namun beternak sebagai tabungan. Hasilnya mungkin tak seberapa, dijualnya pun hitungan tahun, hasilnya mesti dirawat dan dihemat benar-benar sekadar untuk bernafas sehari-hari.
Jika kita mengamati rumah-rumah di Gunungkidul, biasanya dijumpai pula kandang sapi atau kambing di samping, di belakang, atau bahkan juga di depan rumah. Adapun pada beberapa wilayah di Gunungkidul yang lain, kandang terletak di luar pekarangan–berkilometer jauhnya di ladang.
Di pekarangan saya, kandang terletak di belakang rumah, di samping jamban dan rimbunan bambu. Kandang saya bersihnya bukan main, kamar saya kalah bersihnya. Kandang itu disapu setiap pagi dan sore, sedangkan kamar saya tidak. Beberapa tahun yang lalu, Bapak juga membangun dua bilik kandang panggung. Katanya agar kambing lebih bersih, dan bersih itu sehat. Semenjak itu kambing saya tidak lagi tidur di atas tumpukan srinthil, pesing dan prengus tiada menyengat.
Sejajar dengan merawat anak manusia, setiap nyawa kambing diberikan namannya sendiri. Motif penamaan itu berangkat dari harapan, karakter hewan, atau momen yang terjadi saat peristiwa kelahiran. Nama-nama kambing ditulis rapi di gebyok rumah dengan kapur, lengkap beserta tanggal lahirnya.
Ada beberapa kambing di kandang saya, dan dua di antaranya bernama Ketula dan Ketali. Keluarga saya sering memanggilnya Lola dan Loli, terdengar kekinian dan feminim, padahal kedua kambing saya tersebut jantan. Tetapi itulah yang saya suka, penamaan hewan kerap tidak memandang gender.
Dengan ekosistem pekarangan seperti itu, tiada jarak antara manusia dan kambing. Keduanya tumbuh bersama di pekarangan, sebagai hidup yang sama-sama pantas untuk tumbuh. Kami saling merawat dengan keterbatasan masing-masing, dan oleh karena ini pula diri menjadi sadar bahwa manusia tak benar bisa sendiri.
Ditinggal ibu dalam dinginnya malam.
Karena segala yang hidup itu sakral, maka menunggu kelahiran kambing sama debarnya dengan menunggu kelahiran manusia. Keduanya sejajar. Bukan karena bertambahnya jumlah kambing berarti bertambah pula tabungan itu, bukan. Ini perihal keselamatan nyawan ibu dan anak.
Di momen qurban seperti sekarang, saya jadi teringat peristiwa kelahiran Ketula dan Ketali. Dua kambing yang nanti kemudian tinggal di dalam rumah saya sebulan. Waktu itu, saya sekeluarga menunggu dalam hitungan jam. Ibu mereka kelap-kelip saja matanya. Keluarga saya dan keluarga kambing pun sama heningnya. Kandang tak kalah tegang dengan klinik bersalin.

Lewat tengah malam, Sri (ibu), kambing gaduhan yang sudah setahun menjadi keluarga itu tampak tak biasa. Ia hanya termenung, tatapanya kosong. Begitupun saya, sama kosongnya. Penantian kami sibuk menangkis tangis, buruk, agar hal-hal baik saja yang tertangkap.
Membayangkan Sri berbulan-bulan mengandung dua anaknya kadang tak tega. Kedua matanya sering sayu akhir-akhir itu. Segala baik pun sudah kami upayakan agar hidupnya sehat, meskipun kami masih kejar-kejaran dengan nasib kami sendiri.
Menjelang subuh, kami masuk ke kandang, kambing-kambing lain juga tegang. Beberapa kambing mengintip dari celah sekat, menatap Sri melahirkan dua jabang bayi. Ketuban pun tumpah ke tanah, sepasang cempe berbulu hitam dan putih selamat terlahir. Merekalah Ketula dan Ketali.
Dari pawon, Siwo (Budhe) membawa semangkuk air gula jawa, sebagai upaya agar tenaga Sri pulih kembali. Bapak dan mamak mengelap badan si jabang bayi. Sedangkan saya hanya melihatnya saja, sibuk mengabadikan.
Beberapa menit telah berselang, Sri tetap enggan minum air gula jawa, tubuhnya nampak layu, gontai tak mampu berdiri. Seketika semuanya seperti menjadi yang terakhir, dan segala yang terakhir pastilah berharga. Meskipun kami dan Sri berbeda bahasa, kami saling paham tentang waktu dan rasa sakit. Sri, pergi, berangkat ke tujuannya.
Kelahiran maupun kematian itu juga tumbuh, itu juga bergerak, ke tujuanya masing-masing. Kita hanya mampu menduga di mana tujuan itu. Ya, dunia adalah ribuan kemungkinan hidup, dan sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang selesai.
Ketula dan Ketali yang ditinggal pergi Sri hanya mampu menyundul-nyundulkan kepalanya ke badan ibu, seperti minta ditimang dan dikudang—barangkali juga digendong dan diejakan ilmu-ilmu, seperti:
“Ini namannya tayuman, atau kancu, kalau yang itu namanya kalanjana, semuanya boleh dimakan, Le. Kalau yang sedang dimasukan ember itu namannya comboran, itu biar kita cepat gemuk, sehat. Jadilah sebaik-baiknya kambing, ya, Le. Meski dunia hanya sepetak kandang, kecil, tetapi cukup buat bersama, cukup buat sepanjang hidup, hidup yang sederhana saja.
Kelak, akan tiba waktu kita saling tak mengerti, dan terpisah sama lain. Dan entah bagaimana nanti cara kita saling meninggalkan, kau mesti paham, itu adalah kebebasan, dan kebebasan sebaik-baiknya hidup.”
Menatap jauh ke luar bahasa
Seperti halnya Sri, kata-kata pun pergi di itu subuh yang entah. Rasanya semesta mandeg, sumilir angin berkeratap di daun-daun, layaknya embun, dan embun pindah ke mata. Oh, sungguh waktu habis untuk saling tatap. Tetapi, bukankah tatapan adalah bahasa yang tulus—yang semuanya paham tanpa harus belajar dari kamus.
Tanpa kata-kata, tanpa bahasa biasanya, kami melangkah. Mamak menggendong Ketula dan Ketali ke rumah, menghindarkanya dari dingin malam dunia, yang kadang kejam, terlebih tanpa pelukan ibu. Bapak meraih pacul, menggali liang di samping kandang. Tubuh Sri dikubur perlahan, tanpa epitaf dan bunga taburan.
Pagi pun menjelang, Ketula dan Ketali masih meringkus. Saya duduk di samping mereka, menerka mimpinya. Barangkali bermimpi tentang sabana yang luas, berlarian bebas, juga bertanya tentang langit lepas: mengapa warnanya biru; mengapa ada awan-awan; dan siapakah itu yang terbang.
Dialog antara saya bersama mereka pun terjadi sepanjang waktu, hari ke hari, bahkan tahun ke tahun. Terlebih ketika sedang ngasih makan, ngombor, maupun metani (membersihkannya dari kutu).
Terjadi lompatan bahasa di sana. Percakapan yang lintas. Saya dengan bahasa jawa dan Indonesia, dan mereka dengan bahasanya pula, lalu entah mengapa kita saling mengerti. Mungkin, untuk mengerti relasi ini kita perlu menelusuri kembali bahasa kita (manusia) dengan segala celahnya itu.

Kita tak perlu menulis suara kambing, menjadikannya kata dan mengartikannya. Dalam dunia di mana makna-makna dibentuk oleh alam, pasti tiada kebohongan. Lola dan Loli tak perlu berjawa krama ketika meminta makan. Suara dan tubuhnya sudah sangat merayu. Begitupun di belahan dunia yang lain, bahasa kambing tetaplah sama, dan manusia yang cinta pasti mengerti. Sungguh, tubuh dan waktu adalah bahasa yang tulus, tak seperti dunia kita yang sibuk berkata-kata tanpa pernah mengerti kata-katanya sendiri.
Dalam ini alunan takbir, daging-daging kambing dihidang di piring. Tertegun lama saya menatapnya, selama saya bersama Lola dan Loli saling menatap. Dan Sri, di manakah ia kini? Duh, Gusti, hidup memang tak banyak pilihan. Ingin rasanya, oh ingin rasanya, saya makan tanaman saja seperti mereka.

