Menjelang hari raya panen padi, beragam persiapan dilakukan para petani di Gunungkidul. Mulai dari ngasah arit, gathul, membuat tali dari bambu, mempersiapkan armada, hingga menggelar tradisi tertentu. Salah satu adat-istiadat sebelum memanen padi yang biasa dilakukan petani di Bukit Handayani adalah mengirim parem untuk Mbok Sri (Dewi pelindung hasil bumi, khususnya padi).
Seperti halnya Mbah Supinem dan Mbah Sutiyah. Petani dari Dusun Keblak, Ngeposari, Semanu, Gunungkidul itu selalu menyambut panen padi dengan mengirim parem. Sambil menenteng wadah yang terbuat dari daun pisang, mereka berjalan ke ladang yang jaraknya hanya seperlemparan batu dari rumah. Persis di sebelah barat hunian Kang Medi Tumin RT 04 RW 09.
Buat yang (mungkin) belum tahu parem, tenang saja, tak jelaske, Dul. Sederhananya, parem adalah ubarampe/sesaji yang terbuat dari beberapa bahan, seperti wedhak, kunyit, dan kayu manis. Bahan-bahan tersebut diracik sedemikian rupa, kemudian diletakkan di dalam dua thakir (wadah dari daun pisang berbentuk persegi yang disematkan pakai biting/sada/lidi) .
Proses bikin parem itu gampang, yang berat itu bayar pajak, Dul..

Thakir pertama berisi wedhak dan kayu manis yang diublek-ublek pakai air secukupnya. “Wedhak” yang saya maksud bukan produk skincare kayak di toko-toko kecantikan itu, ya, Dul. Melainkan tepung beras yang dicampur dengan jeruk purut, mesoyi (cryptocarya massoia), pulowaras, dan krangean (litsea cubeba).
Misal nih, lagi nggak sempat mencampur sendiri, saat ini wedhak parem sudah tersedia dalam kemasan saset. Bisa cari di Pasar Munggi sana, persisnya samping bakul sothil. Bentuk parem saset ini bulat putih sebesar kelereng, mirip ceplus Kacang Garuda.
Kemudian thakir kedua berisi campuran kunyit dan air. Cara bikinnya amat, sangat, mudah. Tinggal parut dua sampai tiga ruas kunyit di atas thakir, kemudian campur dengan sedikit air. Itu saja. Proses pembuatannya nggak seberat bayar pajak kan??
Ora-ora, gek njo lanjut..
Mantra-mantra sederhana penuh makna

Menurut penuturan Mbah Supinem, mengirim parem nggak boleh dilakukan sembarangan. Setiap dusun pasti punya hari baiknya sendiri-sendiri. Kebetulan kalau di Dusun Keblak, para petani (wajib) mengirim parem untuk Mbok Sri setiap hari Sabtu Pahing.
“Ya, nek jare simbah-simbah jaman semana, pokoke dina apik kanggo nyebar parem ki Setu Paing. Wis turun-temurun. Kuwi Keblak lho, mbuh nek liyane desa kene, aku ra ruh” jelas Mbah Supinem ketika saya menanyakan alasan di balik pemilihan hari Sabtu Pahing.
Praktik mengirim ubarampe ini dilakukan secara berkala sebelum masa panen. Biasanya, saat padi berumur 40 hari, 60 hari, dan 90 hari atau saat memanen. Para petani akan meletakkan parem di tengah-tengah tanaman padi yang hendak dipanen. Lalu sambil duduk berjongkok, among tani merapalkan doa seperti berikut:
Mbok Sri, iki dinane Setu Pahing
Tak kirim wedhak parem
Anak putumu sing kerumatan ora kerumatan padha klumpukna,
Pojok lor-kidul-etan-kulon, paremana, wedhakana,
Ben ayem, tata, titi, Tentrem
Wujud kasih sayang petani Gunungkidul kepada Dewi Padi

Entah “kesepakatan” apa yang dibuat antara petani dengan Mbok Sri. Sehingga simbah-simbah saya perlu menyebutkan “iki dinane Setu Pahing, takkirim wedhak parem.” Yang pasti, kalimat itu mencerminkan kedekatan dan keakraban para among tani Gunungkidul seperti Mbah Supinem dan Mbah Sutiyah dengan Mbok Sri. Barangkali inilah yang sering disebut-sebut orang bijak sebagai “wujud keselarasan antara manusia dan lingkungan” itu.
Rapalan mantra seperti Anak putumu sing kerumatan ora kerumatan padha klumpukna, wedhakana, bukankah menjadi bukti nyata bahwa para petani di Gunungkidul tidak mementingkan perutnya sendiri?
Sampai di sini, kita tahu bahwa mengirim parem untuk Mbok Sri (sesungguhnya) bukan sekedar meminta agar padi tumbuh subur dan menghasilkan panen melimpah. Tapi juga sebagai wujud cinta dan kasih sayang petani Gunungkidul kepada lingkungan sekitar.
Jenis ubarempe yang dikirim Mbah Supinem, seperti kunir sering diartikan sebagai tanda kesucian-awal mula kehidupan, kayu manis wujud keseimbangan alam, dan wedhak acap dijadikan simbol keindahan. Semua semata-mata demi alam yang lebih subur, makmur, sehat, dan cantik.
Di saat para among tani di dusun-dusun begitu dekat, hormat, dan menghargai alam sekitar, justru orang-orang sok “modern” kayak ((kita)) justru lebih suka merusaknya. Petani dusun menanam padi, “manusia kota” membangun gedung-gedung tinggi. Tumbuhan akan selalu menghidupi, menanam beton hanya menumbuhkan sikap bebal dan keras kepala. Rak ya ngunu ta, Dul?
“Wis, wis, gek njo kirim parem.. sasi ngarep gari opek,” kata Mbah Supinem kepada Mbah Sutiyah, yang entah sampai kapan lahan pertanian mereka masih berwujud sawah.
Rahayu wong gunung pojok etan, kulon, lor, kidul! Dirgahayu amongtani Gunungkidul!
![]()
pemuda aktivis dari Keblak Semanu; jurnalis dan pegiat Sastra Budaya di Sanggar Ori Gunungkidul
Oleh: Jevi Adhi Nugraha


