Dasar, Inlander Bodoh!

Dasar, Inlander Bodoh!

Bagikan ke :
foto: buku indonesia-menggugat
foto: buku indonesia-menggugat

Lewat pidato pembelaannya dalam sidang pengadilan kolonial bertajuk Indonesia Menggugat, Bung Karno berujar, “Berabad-abad kami mendapat cekokan ‘inlander bodoh’, berabad-abad kita diinjeksii rasa-kurang karat, turun-temurun kita menerima systeem ini… dipadam-padamkan segenap kita punya energi…”

Bung Karno, seorang tokoh sentral dalam sejarah Indonesia yang memiliki visi besar tentang kejayaan Nusantara. Ia membayangkan Indonesia sebagai negara kuat dan disegani di dunia. Ia bercita-cita ingin mengembalikan kejayaan masa lalu seperti kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Tercermin dalam pidatonya yang seringkali membangkitkan nasionalisme dan cita-cita besar untuk Indonesia.

Sebentar, Bung. Saya tau antum mangkel dalam konteks dicaci-maki londo dengan diksi menyayat hati: “Dasar, Inlander Bodoh!”. Tapi, ya, Majapahit dan Sriwijaya itu kan hidup atas konteks yang ada pada zamannya. Mengunduh kisah itu perlu, tapi dalam konteks saat ini, utopia-utopia yang kadang malah jadi teknik manipulatif untuk kibul kepada warga itu juga gak benar-benar amat. Kita tahu, tanah yang didiami warga Indonesia ini adalah “mantan” milik kerajaan-kerajaan besar. Dahlah, yang kecil-kecil aja dulu. Besar-besarannya engko sik!

Sedangkan dalam konteks lokalitas, keyakinan-keyakinan tentang kejayaan masa lalu terus saja membumbung mewujud ritus, adat, dan kebudayaan. Taklid total, esensi luruh eksistensi number one. Misalnya, dalam lokacarita warga Gunungkidul banyak menyebutkan bahwa tanah putih berkapur itu turut mengicip kejayaan Majapahit. 

Foklor-foklor yang termaktub dalam ingatan-ingatan warga Gunungkidul (berikut peninggalannya) banyak sekali dijumpai. Keyakinan-keyakinan teologis tentang datangnya suatu “zaman keemasan” kerap ditemui dalam gerakan Ratu Adil dan memori masyarakat. Tutur Panji, Reyog Dhodog, Brawijaya, dan hal-hal lain yang melengkapinya. 

Mengingat masa lalu bukanlah hal yang keliru. Tapi, bila terjerembab dalam kejayaaan masa lalu terus-menerus, kita akan teralienasi dengan hal-hal yang riil. Misalnya, konteks Gunungkidul yang lekat dengan folklor Majapahit: kita belajar ihwal Majapahit, tapi tak melulu tentang kejayaannya di masa lalu saja, tapi juga tentang kekuatan yang “menjadikan” kerajaan tersebut “besar”.

Sebab itulah, upaya-upaya nglumpukke kisah-kisah sejarah dalam belantika kebudayaan yang mengarus balik tak melulu bersandar pada kisah kebesaran Majapahit dan Mataram Kuno saja. Sebagai kritik, kisah kejayaan masa lalu dapat menjadi obat bius sekaligus perangkap atas kebanggaan semu. Jauh atas realitas yang dijalani masyarakat.

Peristiwa-peristiwa sejarah menjelma menjadi produk-produk kebudayaan: adat istiadat, kesenian, dan hal-hal sepadan lainnya. Selanjutnya, kapan kita akan

menceritakan tentang sejarah atau budaya milik wong cilik berikut narasi-narasi keseharian yang lekat dengan kehidupan masyarakat?

Dapat pula dikatakan bahwa kebudayaan bukanlah suatu hal yang statis saja. Kebudayaan merupakan produk dari perjalanan sejarah yang dinamis dalam ruang sosial dan kultural yang konkret. Bagi saya, kebudayaan dan realitas sosial tak dapat di pontho-pontho atau bahkan dipisahkan. Sampai kapan kita berkabung dalam utopia keemasan sedangkan realitas masyarakat sedang berkabung: kemiskinan, angka bunuh diri, tambang kapur, dan segenap peristiwa bedebah lainnya.

Foto Daksina arga;Mencari Rotan untuk Membuat Gapit Wayang; Kedhung Balung
Foto Daksina arga;Mencari Rotan untuk Membuat Gapit Wayang; Kedhung Balung

Bawah Sentris

Menukil apa yang sempat disampaikan Kuntowijoyo lewat Dasar-dasar Ilmu Sejarah: sejarah memiliki porsi sebagai telaah kritis atas peristiwa. Suatu peristiwa, tokoh, tempat, tak selalu ditentukan oleh hasil akhirnya saja. Penting dipahami bersama bahwa apa yang terjadi disebabkan oleh kedudukan dalam waktu dan tempat tertentu: konteks mempengaruhi teks, pun sebaliknya. 

Hal di atas menjadi salah satu siasat untuk mengangkat kembali peristiwa, tokoh, atau tempat yang terkadang dalam relasi kuasa dianggap “tak penting”. Lewat salah satu celah itulah pemahaman kita ihwal kebudayaan, sejarah, masa kini, dan masa depan akan menjadi lebih adil. Kebudayaan berikut tafsirnya bukan ditentukan oleh orang-orang besar saja. 

Foto berlokasi di Desa Nglanggeran
Foto pemuda di Desa Nglanggeran

Wong cilik berhak menafsirkan dirinya sendiri menggunakan narasi-narasi agak lain. Seyogianya, bersamaan dengan kecenderungan ke arah dekolonisasi dalam penulisan sejarah itu, di kalangan penulis telah masif timbul gagasan untuk berpindah dari penulisan sejarah yang “Atas-sentris” ke “Bawah-sentris”.

Narasi Bawah-sentris yang saya maksud adalah tafsiran peristiwa berlandaskan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terkadang, kolonialisme terselubung berwujud pengagungan hal-hal besar dan merasa inferior dengan hal-hal kecil. Misalnya tentang penulisan sejarah pedesaan. Kita terlampau biasa mendengar kisah-kisah heroik negara yang dibalut nasionalisme. Tapi, kadang luput dengan kisah tempat yang kita tinggali. Kecil belum tentu tak penting.

Sejarah pedesaan, semacam sejarah yang meneliti tentang desa, masyarakat, petani, dan ekonomi desa. Desa sebagai kesatuan teritorial dan administratif yang terkecil di Indonesia dirasa perlu untuk dituliskan. Topiknya pun beragam: ekosistem desa, geografis, ekonomis, dan budaya. Tapi, terkadang, proses-proses itu tersendat pola-pola nrima ing pandum yang kadang “seolah” masyarakat tidak memiliki pandum untuk menafsirkan dirinya sendiri.

Bukan berarti masyarakat tak mau menuliskan kisahnya. Tapi, pola-pola hegemoni pengetahuan yang dilakukan “penguasa” mencokol sedemikian lama. Belum lagi disibukkan dengan hiruk-pikuk keseharian yang sangat menyita tenaga: sandang, pangan, dan papan.

Foto petani di Desa Nglanggeran
Foto petani di Desa Nglanggeran

Bukan berarti tak bisa, narasi alternatif juga dapat tercipta atas dasar keterbatasn. Mendobrak narasi yang itu-itu saja, mono, sentral, dan terstruktur. Pramoedya Ananta Toer telah memberi  contoh apa itu Bawah Sentris. Lewat Drama Mangir, ia menawarkan cara pandang lain terhadap peristiwa yang dialami oleh Ki Ageng Mangir dan Kerajaan Mataram Islam. Bukan tentang benar salah, tapi tentang heterogenitas narasi yang kelak memunculkan dialektika-dialektika dan diskursus baru.

Menyangkut lokalitas Gunungkidul, karya-karya yang bersandar atas pengetahuan-pengetahuan sehari-hari juga mulai tercipta. Gunungkidulan, serupa buku dengan ketebalan 800 halaman bercerita tentang narasi-narasi lokal. Buku yang ditulis oleh Wonggunung itu menjadi salah satu contoh upaya “bawah” menafsirkan dirinya sendiri berikut lingkungan yang menunjang hidupnya.

Buku Gunungkidulan

Selain Gunungkidulan, Menanam Hantu di Bukit Batu yang ditulis oleh Jevi Adhi Nugraha menyibak hal-hal lokal dan getir di Gunungkidul. Buku yang berisi kumpulan reportase dan catatan ihwal Gunungkidul fokus menyoroti isu-isu sosial yang dialami masyarakat Gunungkidul. Utamanya terkait dampak pembangunan yang tergesa-gesa.

Bila di detailkan lebih lanjut, ada pula buku yang membahas tentang dusun. Sambatan karya Rohmat Gilang Rosady seperti menyasar jantung narasi lokal Gunungkidul. Ia mencoba membuat karya dengan menceritakan aktivitas-aktivitas warga dusun. 

Saya pikir, ketiga buku di atas cukuplah sudah untuk membuka diskursus bahwa menafsirkan hal-hal kecil, dekat dengan diri, merupakan hal yang sah-sah saja. Tak perlu jauh-jauh membahas Mazhab Annales bila kita hendak menceritakan tutur leluhur. Toh yang menjalani juga kita-kita sendiri. Sekitar kita, menunjang kita.

Buku Sambatan – Gilang dan Bersama Pringamba
Buku  Menanam Hantu di Bukit Batu;oleh Jevi Adhi Nugraha
Melawan dengan Sablon Cukil Taling Tarung; oleh Sanggar Lumbung Kawruh
Melawan Pulung Gantung; Kumpulan Kisah Inspiratif Ketahanan Jiwa dari Gunungkidul; oleh Yayasan Inti Mata Jiwa Gunungkidul
Argadumilah: Siti Rengka ing Tegalan; Narasi-narasi Sederhana tentang Gunungkidul; oleh Kabar Handayani
Buku Kawruh Among Boga dari Keluarga Sedusun dan Sanggar Lumbung Kawruh

Konklusi akhirnya, ketika para-para sentral, hegemonik, pemangku kebijakan, dan pemegang alat-alat produksi hendak m-e-n-c-I-p-t-a-k-a-n narasi sejarah sentral, ya, dipikir masyarakat tak berdaya dan tak bisa bikin ini itu. Tanpa posisi sentral, jabatan mentereng, dan alat-alat produksi yang mumpuni, warga desa punya survival mode yang bakuh. Mau Sejarah Nasional Indonesia akan dimonopoli sama Fadly Zon kek, apa kek. Narasi pembanding akan selalu ada, bahkan melipat dan berganda. Natural dan selalu. Begitu. 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *