Ngarit Pakan di Gunungkidul: Pengabdian untuk Ternak, Alam, dan Kehidupan

Ngarit Pakan di Gunungkidul: Pengabdian untuk Ternak, Alam, dan Kehidupan

Bagikan ke :

Ketika cahaya matahari menerobos celah-celah gedek, Mukirah (67) mulai mempersiapkan ubarampenya. Beliau harus berangkat ke ladang tepat waktu. Sebab, perihal berangkat kerja, antara petani dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) punya kesamaan. Jika PNS terlambat masuk kantor, bisa dimarahi atasan. Sementara itu, jika petani terlambat mencari rumput, kambing-kambing mereka pun bisa marah, bengak-bengok, hingga membuat tetangga terganggu.

Berbekal naluri dan kebiasaan, Mukirah memperkirakan waktu keberangkatan tanpa arloji di tangan. Outfit ngarit-nya hanya digantung di pawon, terkadang masih kotor berlumpur. Tak main-main, outfit ngarit-nya yang terdiri atas kerudung merah muda, kemeja panjang biru, dan celana pendek hitam, telah berumur tiga tahun. Outfit ngarit itu ia kenakan setiap hari tanpa libur akhir pekan. Mukirah hanya libur ketika tubuh terasa lelah, atau ketika ada acara khusus seperti sripah dan tilik.

Outfit ngarit tersebut dipilih dengan alasan sederhana: melindungi tubuh dari serangan glugut, ulat gatal, dan daun kalanjana yang tajam. Biasanya, para petani di Desa Grogol memanfaatkan pakaian usang sebagai outfit ngarit. Selain itu, baju olahraga bekas anak cucu, kaus partai, batik, atau kaus hadiah dari semen, menjadi pilihan favorit untuk pergi ke ladang, selama memiliki lengan panjang dan tampak sopan.

Pengabdian untuk Ternak, Alam, dan Kehidupan
Mukirah, kalanjana, dan alam

Setiap pagi, Mukirah berjalan sekitar lima kilometer dari rumahnya di Dusun Tungu ke ladang yang berada di Dusun Senedi, Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul. Pengabdian ini ia lakukan sejak kecil hingga usia lanjut. Baginya, mencari rumput bukan sekadar pekerjaan, melainkan jati diri kehidupan—sebuah alasan untuk menjalani hidup dan memberikan manfaat bagi keluarga, lingkungan, serta tanah lahir.

Nilai emansipasi perempuan sudah merasuk di tubuhnya, meski Mukirah tidak bisa membaca buku, ataupun mendengar narasi emansipasi dari teman sebaya. Mukirah memahami emansipasi melalui kerja keras, menapaki jalan berbatu tanpa alas kaki, setiap hari selama puluhan tahun, demi kelanggengan hidup. Sedari kecil Mukirah diakrabkan dengan tanah oleh orang tuanya (Reso Utomo) yang juga among tani. Ketika remaja, Mukirah aktif membantu orang tuanya jualan kayu bakar ke pasar Playen dan Saptosari yang jaraknya tentu lebih jauh. 

Mukirah sedang memotong kalanjana

Pada musim penghujan, Mukirah menanam kalanjana guna pakan ternak. Tanaman ini digemari oleh masyarakat Gunungkidul karena kandungan nutrisinya yang tinggi seperti protein kasar, serat kasar, dan kadar air yang melimpah. Selain itu, produktivitas kalanjana yang tinggi memudahkan peternak dalam mengelola cadangan pakan.

Mukirah mengelola lahan kalanjana di tanah milik Perhutani. Sejak dahulu, Perhutani memberikan izin kepada masyarakat setempat untuk menggarap lahan mereka dengan syarat turut merawat tanaman minyak kayu putih milik Perhutani. Lahan ini dikenal dengan istilah “mbaon, yang berasal dari kata mbahu (merawat). Nama ini menjadi simbol pesan manusia untuk saling merawat, baik terhadap sesama maupun lingkungan.

Dhudhuh: membersihkan rumput dengan gathul.

Mukirah hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mengumpulkan satu bongkok kalanjana. Sebongkok yang cukup, tanpa berlebihan, karena ia harus menggendongnya hingga ke rumah. Biasanya, ia pergi ke ladang bersama adiknya, Pasri, yang mengelola tanah di lahan sebelahnya. Setelah selesai memotong kalanjana, mereka melanjutkan aktivitas dengan dhudhuh:membersihkan dan merawat tanah garapan.

Mukirah dan Pasri berjalan pulang

Jam pulang dari ladang telah ditentukan secara turun-temurun berdasarkan waktu makan ternak, sekitar pukul 10 pagi.  Karena sudah menjadi bagian dari hidup, Mukirah dan Pasri tidak perlu melihat arloji untuk menentukan kapan saatnya pulang. Ketekunan beliau lebih canggih dari penanda waktu modern. Dalam perjalanan pulang yang memakan waktu sekitar 30 menit, mereka sering bertemu sesama petani yang juga saudara sendiri, seperti Mukiran dan Musilan. Percakapan singkat sering kali menghiasi perjalanan mereka. Mereka saling menceritakan ternak masing-masing hingga peristiwa-peristiwa kecil di sekitar rumah.

Di masa sekarang, among tani menggunakan berbagai cara untuk mempermudah mobilitasnya dalam membawa rumput, mulai dari menggendong, menyunggi, hingga menggunakan sepeda ontel, motor dengan keranjang, atau bahkan mobil bak. Sesampainya di rumah, Mukirah meletakkan kalanjana di babrakan. Sebagian pakan dipotong kecil-kecil agar kambing lebih mudah memakannya tanpa tersedak, sementara sisanya disimpan untuk makan sore.

Mukirah seperti tidak pernah menyalahkan keadaan. Adegan-adegan hidupnya meluncur begitu saja. Ia tidak pernah gelisah tentang siapa yang akan merawat tanah dan kambingnya suatu saat. Sungguh seorang ibu, yang juga sama dengan ibu bumi. Semangat hidup yang telah ia tanam suatu saat pasti akan tumbuh.

Diriwayatkan oleh:Bagong Gugat
Editor: Sintas Mahardika

Bagong Gugat

Kretekus dan tenaga luwes.

Oleh: Bagong Gugat

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *