*Waktu masih menunjukan jam 04.00 pagi, namun dari arah pawon(dapur) sudah mulai ada aktivitas. Terdengar suara perabotan yang digunakan serta diselingi kertakan kayu yang sedang dibakar. Asap membubung tinggi memenuhi langit-langit pawon yang di atasnya terdapat ikatan jagung. Kata Siwo jagung-jagung itu bakal digunakan untuk winih(benih) yang akan ditanam untuk musim tanam selanjutnya. Kendati sudah tidak banyak lagi, pemandangan ini masih bisa ditemui pada beberapa rumah petani di desa-desa Gunungkidul. Mereka masih mempraktekkan ilmu nenek moyang yaitu tentang Kedaulatan Pangan**
“Lha kok wis tangi?, turu meneh wae, iki aku lagi arep masak nggo sangu neng ngalas.”
“Kok sudah bangun? tidur lagi saja, ini aku lagi mau masak buat bekal ke sawah,” begitu kata Wo Duplak dengan logat bahasa Jawa yang kental.

Siwo Duplak, begitu saya memanggilnya, seorang perempuan sederhana yang tinggal di Dusun Jogoloyo, Kalurahan Duwet, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. Siwo adalah panggilan bagi kakak dari Simbok atau ibu kandung saya.
Meski sudah tidak muda lagi, bahkan sudah bisa dikatakan berusia renta, keseharian Siwo Duplak sampai saat ini masih terus bertani. Anak-anak Siwo juga meneruskan profesi pertanian ini. Siwo Duplak sudah berumur 79 tahun, namun badannya masih sangat sehat dan kuat. Setiap pagi beliau pergi ke sawah sampai siang, lalu pulang ke rumah sambil membawa rumput atau pakan ternak. Setelah memberi makan ternak, Siwo kemudian memasak untuk makan siang.
Setelah memasak, Siwo beristirahat sejenak kemudian kembali lagi ke sawah untuk merawat tanaman dan ‘ngarit’ lagi hingga sore hari, dan kembali lagi ke rumah membawa rumput untuk pakan ternak sore dan sisanya untuk sarapan esok pagi. Aktivitas ini ia lakukan setiap hari selama puluhan tahun.
Tumpang sari sebagai sistem pertanian
Di lahan pertaniannya, Siwo menanam beragam tanaman mulai dari: padi, jagung, singkong, kacang koro, kacang panjang, kacang ijo, kacang tanah, dan rumput kolonjono. Selain itu, Siwo juga menanam sayur-sayuran seperti: bawang merah, bayam, kangkung atau cabai.

Siwo menggunakan cara bertani tumpang sari atau campur sari, bukan monokultur: seperti yang banyak dilakukan di lahan pertanian masa kini. Bukan tanpa maksud, cara bertani tumpang sari dengan jenis tanaman beragam ini memang lazim dilakukan oleh para petani di Gunungkidul. Tumpangsari sebagai strategi ketahanan pangan sekaligus kedaulatan pangan bagi rumah tangga mereka.
Cara bertani Siwo, mengingatkan saya pada salah satu sekolah kontekstual di pesisir pantai Gunungkidul, yaitu Sekolah Pagesangan yang diasuh oleh Diah Winduretno. Sekolah Pagesangan ini berada di padukuhan Wintaos, Kalurahan Girimulyo, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.
Diah pernah bercerita bahwasannya masyarakat di Wintaos juga menggunakan sistem pertanian tumpangsari. Menanam berbagai jenis tanaman dalam satu lahan pertanian. Beliau memaparkan bahwa cara tersebut dilakukan untuk bertahan hidup.
“Tidak mungkin hanya menanam satu tanaman saja dalam satu lahan dengan kondisi alam Wintaos yang hanya bisa menanam pada musim penghujan saja,” saya teringat kata kata Diah beberapa waktu lalu.
“Sayang kalau sawah hanya ditanami satu tanaman saja, kalau mau makan jagung gimana? masak harus beli? kalau mau bikin sayur mbayung atau bayam masak harus beli? mending menanam sendiri tinggal petik,” Ujar Siwo Duplak memahami kontekstual dari sebuah sistem kedaulatan pangan.
Dari sini saya melihat, Siwo bertani tidak semata-mata untuk mencari keuntungan. Prioritas Siwo bertani adalah untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Ketika kebutuhan pangan keluarga sudah tercukupi barulah sisanya dijual.

Salah satu contoh tanaman yang Siwo tanam adalah padi. Dalam setahun, Siwo menanam padi hanya satu kali. Ketika sudah panen, beras tidak langsung dijual melainkan disimpan di salah satu bagian rumah yang dijadikan semacam lumbung, namanya “pesucen”. Disimpannya pun tidak dalam bentuk beras melainkan dalam bentuk gabah. Jika masih ada stok gabah panenan sebelumnya, gabah tersebut yang akan digiling dan akhirnya dijual. Jadi yang dijual bukan hasil panen hari ini, namun hasil panen sebelumnya.
Menjual beras itu tabu menurut orang jaman dulu
Menurut Siwo, sebelum ada tren menjual hasil tani, orang jaman dulu mempunyai semacam pemahaman bahwa menjual beras adalah sebuah tindakan yang tabu.
“Kalau simbah-simbah dulu mengatakan ora ilok (tabu), mosok beras kok dijual, beras adalah sumber pangan,” tutur Siwo yang masih dengan bahasa jawanya.
Namun karena pergeseran budaya, kebutuhan sehari-hari bukan hanya makan tapi juga ada kebutuhan materil seperti biaya kondangan, sekolah dan beli bensin akhirnya perlahan mulai masuk budaya bertani untuk dijual.
Walaupun sudah ada pergeseran budaya bertani, Siwo tidak serta merta mengikuti arus perubahan. Dengan menjalankan sistem tidak menjual beras baru panen, cadangan pangan Siwo sampai panen berikutnya relatif aman. Selain beras, Siwo juga menanam jagung dan singkong. Seperti yang kita tahu, jagung juga digunakan sebagai cadangan pangan manusia, namun karena ‘berasisasi’ marak, jagung yang Siwo tanam saat ini diberikan untuk ayam-ayamnya sehingga untuk pakan ayam Siwo tidak perlu beli.

Jika jagung sudah mulai beralih fungsi dari sumber pangan manusia menjadi sumber pakan hewan piaraan, berbeda cerita dengan singkong. Sebelum masa berasisasi muncul, singkong menjadi salah satu sumber pangan wajib bagi Siwo dan sebagian besar masyarakat Gunungkidul: para petani mengolah singkong menjadi thiwul.
Walaupun saat ini beras sudah semakin banyak, namun ikatan Siwo dan beberapa petani tua dengan thiwul ternyata tidak bisa lepas begitu saja. Siwo masih sering memasak thiwul karena rindu.
“Jaman dulu beras itu makanan orang kaya, orang biasa seperti saya ya makannya cuma nasi thiwul atau nasi jagung, kalau jaman sekarang nasi sampai dibuang-buang,” kata Siwo.
Merawat hewan sebagai kerja keseharian
Selain bertani, Siwo juga memelihara hewan. Siwo merawat kambing, sapi, dan ayam di kandang depan rumah. Memelihara hewan ternak bagi para petani, bukan karena kesenangan semata namun karena peran hewan ternak untuk petani cukup besar, terutama kotorannya yang digunakan untuk pupuk di lahan pertanian mereka

Ayam yang dipelihara oleh Siwo, selain untuk konsumsi, daging dan telurnya juga kadang bisa dijual untuk kebutuhan. Selain itu saya melihat peran yang lain: sisa makanan bisa dimanfaatkan untuk pakan ayam–sehingga persoalan sampah organik mampu teratasi di ranah rumah tangga.
“kalau memelihara ayam sendiri itu enak, kalau ingin makan ayam tinggal sembelih sendiri, ingin makan telur juga tinggal ambil, menurutku lebih enak makan ayam sendiri daripada makan ayam potong,” begitu kata Siwo.
Bagi saya kehidupan yang Siwo jalani adalah praxis dari prinsip sustainability atau keberlanjutan yang banyak digaungkan oleh warga medsos terkait kehidupan selaras dengan alam. Sustainability yang berusaha mencapai sebuah sistem biologis yang mampu menghidupi keanekaragaman hayati dan produktivitas tanpa batas.
Relasinya terhadap tanaman, dengan dapur, kandang dan perut nyaris membentuk angka delapan yang berlanjut tanpa putus. Apa yang beliau makan adalah apa yang beliau tanam begitu sebaliknya.
Beliau memanfaatkan segala sumberdaya yang dimiliki menjadi bentuk circular. Sangat sedikit sekali energi yang tidak termanfaatkan. Jika indeks kesejahteraan diukur dengan materil, Siwo tidak masuk ke dalamnya. Namun jika indeks kesejahteraan diukur dari bagaimana Siwo bertahan hidup, bisa berdaya dengan dirinya, Siwo akan masuk dalam jajaran orang yang sejahtera.
”Hidup itu yang penting cukup, bisa makan dan bertetangga itu sudah alhamdulillah” Ujar Siwo sambil mengaduk sayur bayemnya
Editor: Dian Anjar Nugroho