Lagu Indonesia Raya yang diputar panitia senam sehat membangunkan tidurku yang baru setengah jam. Aku pun bersiap, berdiri tegap, dan mataku langsung disambut sebuah kalimat yang terpampang di atas pintu. Kalimat itu berbunyi: “penjajahan di dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Aku terkejut. Rupa-rupanya, Indonesia masih ada pagi ini. Sungguh sebuah mula yang baik di hari menanam.

Kegiatan menanam pagi ini masih menjadi bagian dari rangkaian acara Siarasa #4 yang diinisiasi oleh kawan-kawan Ruka3 (Ruang Karya, Kantin, Komunal). Tadi malam, kawan-kawan Sastra Sêklimah dari Gunungkidul turut nyengkuyung berlangsungnya acara. Barangkali karena itulah aku bisa berada di sini—ikut menanam di Candi Selagriya (Selogriyo),
Candi Selagriya merupakan sebuah situs yang terletak di Dusun Campureja (Campurejo), Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi, pada era Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berada di lereng sebelah timur dari kumpulan tiga bukit: Bukit Condong, Bukit Giyanti, dan Bukit Malang.

Kami berangkat dari Ruka3. Perjalanan menuju lokasi ditempuh kurang lebih setengah jam. Di sepanjang perjalanan membentang pemandangan Gunung Sumbing dan Sindara (Sindoro) juga hamparan padi yang tumbuh di terasering. Gagah Pol. Bezongalah, isih isa nyawang ijo royo-royo ning sak selane perang dunia sing gari mak crit.
Kami sak-rombongan berjumlah sekitar lima belas orang, membawa kurang lebih lima puluh bibit tanaman. Bibit-bibit itu di antaranya adalah: Beringin, Bunut, Bibisan, Kowang, Keben, Asem Jawa, Klumpit, Jaha, Randhu Alas, Kepuh.

Sesampainya di sana kami disambut ratusan anak tangga. Kata tour guide yang memandu kami: kita masih setengah kilo lagi dari titik penanaman. Kami pun membawa bibit itu bersama-sama, berganti-gantian. Ada pula yang membawa pathok, cangkul, dan perbekalan.

Titik lokasi penanaman berjarak kurang lebih 300 meter dari pusat candi. Masuk ke dalam hutan menyusuri bantaran sungai. Kata wikipedia, Candi Selagriya berada di ketinggian 740mdpl, barangkali karena itulah giat menanam pagi ini rasanya sejuk, terlebih sembari mendengar gemercik air yang mengalir di bawah kami.

Penanaman berjalan dari bawah ke atas, menyisir pinggir jalan setapak yang biasa dilewati warga pergi ke ladang. Penanaman berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Setelah itu, kami beristirahat di sekitar Candi. Sambil menunggu sega megana (megono), ikan asin, dan tempe–beberapa kawan menyempatkan diri untuk melihat sumber mata air, sayangnya aku tidak ikut. Payah. Aku malah duduk-duduk saja.

Ada semacam perasaan ganjil ketika aku memilih duduk saja. Seperti ruang kosong yang sekejap menghentak jantungku. Perasaan itu berulang setahun belakangan—asing, tak kukenal. Pikiranku lalu memunculkan bayangan lampau tentang suatu masa yang kuno. Ia sering muncul setiap kali pandanganku menghampar luas ke alam.

Aku mencoba memetakan perasaan itu. Barangkali kami perlu saling mengenal, lalu menerima satu sama lain. Seperti tanah yang menerima pohon-pohon yang ditanam di atasnya. Keberterimaan tanah itulah yang seyogianya ditiru oleh aku—manusia—sebagai laku menerima diri, termasuk sisi-sisi yang kerap dibenci: yang pemarah, yang rakus, yang diperbudak nafsu, yang sok bijak.

Di tanah pula anak tangga yang tadi aku pijak dibangun. Anak tangga yang membawa setiap manusia sampai ke atas dengan masing-masing niat dan tujuannya–juga yang membawa manusia itu kembali ke mula-buka. Di tanah pula candi yang kini kusentuh dibangun, sehingga sesuatu “kehidupan” antara yang lampau dan kini tetap terhubung.

Dari tanah aku bermula, pada tanah aku kembali. Di antara mula dan kembali, menanam adalah jalan keselarasan. Bukankah laku hidup manusia mencontoh laku alam, dan laku manusia adalah laku alam itu sendiri? Sebab dalam diri manusia terbentang jagad raya yang tak terhingga, kan?. Begitulah cara nenek moyang menjalani hidupnya, kan?

Aku terbenam. Dingin merambat dari telapak tanganku yang menempel pada batu candi. Hidungku menghirup udara, merasakannya masuk ke paru-paru. Kakiku menapaki kerikil, merasakan terjal-kerasnya. Rasane nggrentes tenan. Aku terdiam, lalu berbisik: Gusti, nyuwun pangapura. Kula mung wong lena, mboten luput saking dosa..
Paliyan, 2026
