
Gagah berani, para sepuh melangkah di siang hari walau tanpa alas kaki. Mereka berdandan dengan busana Jawa khas kaprajuritan. Dengan aksen tata rias atau make up yang berwarna-warni, tebal, dan terkadang tidak merata. Pating claring, jika digambarkan dalam bahasa Jawa.
Seringnya mereka beraktivitas di bawah terik matahari membuat kulit mereka berwarna cokelat tua. Mereka bukan murni seniman tari yang belajar di sanggar seni atau menempuh studi ilmu budaya pertunjukan. Tubuh mereka yang kaku ketika memeragakan tari justru menjadi khas dan terlihat alami tanpa dibuat-buat.
Asal-Usul dan Penyebutan
Reyog dhodhog adalah warisan budaya yang hidup, perpaduan antara tari, irama, keprajuritan, dan nilai spiritual masyarakat Gunungkidul. Di balik denting bendhe dan tabuhan kendhang dhodhog, tersimpan kisah kesetiaan, kearifan, dan keluhuran budi para leluhur.
Reyog dhodhog, reog klasik, reog tua, atau reog pung jurr—begitu masyarakat di Kabupaten Gunungkidul menyebutnya. Reyog ini biasanya ditarikan oleh para pria, meski kini terdapat pula kelompok penari reyog dhodhog yang seluruh anggotanya perempuan.
Para sesepuh bertutur bahwa reyog dhodhog merupakan penggambaran para prajurit Kerajaan Majapahit yang pergi ke arah barat untuk mencari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya. Prabu Brawijaya meninggalkan kerajaannya karena pecahnya perang saudara dalam tata pemerintahannya.
Pencarian Prabu Brawijaya dilakukan oleh para prajurit sebagai tanda kesetiaan kepada sang raja. Sebaya mukti, sebaya pati: sehidup semati, menjadi peribahasa yang menggambarkan kesetiaan para prajurit terhadap Prabu Brawijaya.
Tradisi Pertunjukan dan Pola Iringan
Pertunjukan reyog klasik masih dianggap sakral di wilayah Gunungkidul. Ia menjadi bagian penting dalam tradisi yang diselenggarakan di dusun dan desa-desa, hampir di seluruh kabupaten. Salah satunya adalah tradisi tahunan Rasulan.

Pergelaran reyog klasik biasanya dilakukan pada pagi hari setelah kirim ndowa: mengeluarkan nasi sedekah dengan nampan, sesudah doa diikrarkan. Hal ini merupakan bentuk adab: sebelum kesenian yang bersifat baru ditampilkan, kesenian sepuh harus lebih dahulu dipentaskan. Para penghajat upacara menyebutnya asep, yang dapat disejajarkan dengan ngalap berkah kepada para sesepuh dalam kesenian reyog klasik. Tradisi ini menegaskan akar tutur asal-usulnya: kesetiaan dan kepahlawanan prajurit Majapahit.
Selanjutnya, pola iringan dalam reyog dhodhog bergantung pada adegan yang dimainkan. Tabuhan kecer seirama dengan kendhang dhodhog, berbunyi njrang-njrang atau mbyeng-mbyeng. Bunyi ini sering kali membuat para ibu di dapur menjadi gelisah karena anak-anak mereka merengek ingin menonton reyog. Dari sinilah lahir guyonan, “gembyeng kaya reyog.”
Busana Reyog Dhodhog
Busana reyog dhodhog berbeda di setiap wilayah atau kelompok. Baju takwa atau surjan lazim dikenakan para penari, sementara penari yang memerankan senapati kerap tampil tanpa busana, atau ngliga.
Rangkaian busana terdiri atas celana potongan panji, jarik, setgen, keris branggah di punggung, serta selempang atau sampur berwarna kuning dengan ujung cindhe. Hiasan warna-warni melingkar di leher disebut samir.

Strata kepangkatan tampak dari busana: penari berpakaian polos disebut prajurit rucah, sedangkan senapati mengenakan pakaian beraksen cinde dan berhiaskan plisir emas. Leher senapati tidak mengenakan samir, melainkan ulur-ulur—kalung berbentuk bulan sabit dari logam bersusun tiga. Hias kepala mereka berupa udheng giling, berbentuk bulat memutar di atas kepala, berhias plisir emas dan bunga.
Udheng giling dalam reyog klasik mirip dengan yang dikenakan Prajurit Nyutra, satuan keprajuritan di Kraton Yogyakarta. Kini, beberapa pemain reyog dhodhog menambahkan aksesori kacamata hitam—muncul pula guyonan, “nggrembyong kaya arep reyogan.”
Iringan dan Alat Musik
Iringan reyog klasik menggunakan alat musik dari logam, berupa bendhe kecil dua buah dan gedhe ageng satu buah. Kecer, alat dari logam yang sering kali terbuat dari kuningan atau swasa: campuran antara besi dan kuningan, menghasilkan bunyi yang nyaring.
Lebih lanjut, ada pula kendhang dhodhog, yakni kendhang berbentuk tabung dengan satu sisi tertutup kulit sapi atau kambing, sedangkan sisi lainnya terbuka. Seiring waktu, reyog klasik juga menggunakan kendhang batang, alat musik yang dikenal dalam seni karawitan. Alat musik lainnya ialah angklung yang berjumlah dua buah.
Pola Lantai dan Gerakan
Gerak tari reyog klasik memadukan gerak kaki, leher, dan alat yang dibawa masing-masing pemain. Satu kaki diangkat, tangan kiri capeng sambil menyelipkan sampur. Leher digerakkan ke kiri dan ke kanan, disebut pacak gulu, yang menjadi ciri khas gerakannya.
Dalam kesenian reyog dhodhog, urutan penari terdepan adalah senapati berpedang, diikuti senapati penunggang kuda kepang. Panongsong membawa payung kebesaran untuk memayungi sang senapati, sementara Dwajadara membawa bendera atau dwaja sebagai identitas pasukan. Penggunaan dwaja dwi warna (bendera merah putih) menambah kesakralan pertunjukan.

Penombak atau pembawa tombak menjadi personel terbanyak, berjumlah lima hingga sepuluh orang dalam satu baris. Tombak terbuat dari bambu yang dicat warna-warni, dengan ujungnya dihiasi janur (daun kelapa muda).
Pola lantai dibentuk dalam dua baris yang berjajar ke belakang. Setiap baris kemudian membentuk formasi gunung dengan tombak dan dwaja, sementara senapati pedang berada di tengah. Formasi ini disebut arga pawaka: gunung berapi yang bersiap memuntahkan lahar peperangan. Ia melambangkan kesiapsiagaan prajurit, sekaligus kesuburan tanah yang menghidupi petani. Sebelum pertunjukan dimulai, para pemain membentuk formasi sembah: duduk jongkok sambil menghaturkan salam kepada para hadirin dan pemangku hajat reyogan.
Beles dan Penthul
Di antara para penari berbusana megah, dua sosok menonjol dengan postur tinggi kurus dan pendek gemuk: beles dan penthul. Mbah Rubingan, seorang seniman reyog dhodhog dari Dusun Trimulya I, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wanasari, Gunungkidul, kerap memerankan kedua tokoh ini. Ia menuturkan bahwa beles dan penthul melambangkan Sabda Palon dan Naya Genggong: abdi setia Panji Asmarabangun, tokoh yang sering muncul dalam drama, ketoprak, sendratari, hingga wayang beber.
Pakaian mereka mudah dikenali: satu berwarna hitam, satu putih: simbol keseimbangan antara gelap dan terang. Dalam kesenian reyog dhodhog, beles penthul juga berperan sebagai panakawan sebagaimana Semar dan anak-anaknya dalam wayang purwa. Panakawan berasal dari kata pana (paham) dan kawan (teman), berarti “teman yang mengerti.”
Tokoh beles penthul berfungsi sebagai penghibur sekaligus sesepuh kesenian reyog klasik. Dalam adegan tertentu, mereka berperan sebagai botoh, mereka berperan untuk memanaskan suasana agar perang senapati tetap berlangsung. Jika kalah, mereka beralih menjadi juru suwuk atau juru sembuh, memohon kepada Tuhan agar jagoannya kembali pulih.
Mbah Rubingan sering melantunkan kidung Pitik Tulak saat jagoannya kalah:
Kidung Pitik Tulak
Pitik tulak pitik tukung
Tinulake si jabang bayi
Rajeg mendeg kremi mati
Bujang sawan teko wetan
Sinamberan gali putih
Kidung ini dahulu dinyanyikan untuk menenangkan anak kecil yang rewel. Dalam konteks reyog, ia menjadi pengingat kasih sayang dan tuntunan moral bagi para prajurit muda.
Selain itu, Mbah Rubingan kerap menyisipkan kidung kuna lain sebagai pengingat bagi generasi muda:
Kidung Pitukone Wanita Jaman Samana
Pitukone wanita jaman samana,
Dudu sigiting rupa,
Njaluke gajah tata jalma,
Jinogetan wanara seta,
Kayu klepu dewandaru,
Gedhang mas debog salaka,
Parine pari jatha,
Kang tinatap gamelane lokananta.
Dan kidung tentang bahaya minuman keras:
Kidung Jaman Kuna
Jaman kuna dawuhe para pujangga,
Pada wigatekna pituture kang sinabda,
Tetinggal kanggo anak putune,
Tekan jaman sakteruse,
Jaman kali ilang kedhunge,
Pasar ilang kumandhange,
Wanita ilang isine,
Pria ilang wibawane,
Merga ciu lan arak’e.
Tokoh beles penthul juga sering dimintai doa oleh penonton reyog klasik, terutama para orang tua yang telah memiliki cucu. Mereka meraih selendhang kedua tokoh ini saat menari, sebagai simbol permohonan berkah dan keselamatan.
Editor: Dian Anjar Nugroho


Mantap tulisannya memperkaya pemahaman konten Gunungkidulan… Lanjut
Maturnuwun kang,