

Mbah Kasta atau Kasta Sandep namanya, warga perempuan Dusun Purwa Karangsari Semin Gunungkidul. Dusun Purwa berada di wilayah pegunungan. Sore itu ia pulang dari sawah. Ia mampir di halaman rumah Pakdhe Panggih dimana beberapa pemuda dusun sedang menurunkan bibit kelapa yang dibawa dari daerah “ngaré”. Bibit kelapa memang didatangkan dari “ngare” ke Purwa agar bisa ditanam oleh warga yang berkenan menanam. Lazim diketahui bahwa kelapa termasuk golongan pohon yang dekat di hati dan multiguna bagi warga, dari buah, “blarak”, “janur”, hingga “glugu” kelapa semua bermanfaat. Jika tersedia bibitnya, kemungkinan besar para warga mau menanamnya, apalagi jika mereka memiliki lahan untuk ditanami. Bila tempat menanamnya strategis, enam-tujuh tahun perkembangannya bagus dan bisa berbuah.

“Mangga mêndhêt bibit kambilé, Mbah! Jênêngan tandur ing pinggir sawahé jênêngan rika!” seorang pemuda dusun bernama Marji menawarinya bibit kelapa. Mbah Kasta bertanya, “Niki bibit kambil napa?” “Kambil kuning kalih kambil ijo, Mbah”, jawab Marji. “O, nggih, purun!”, Mbah Kasta menyatakan kemauan. Senang hati Mbah Kasta menerima dua bibit pohon kelapa dari para pemuda, tampak pada raut mukanya yang menua. Ia menentengnya kanan-kiri, membawa bibit pohon kelapa itu pulang ke rumahnya. Esok hari ia akan menanamnya.

Sebelum beranjak pergi, Mbah Kasta teringat tentang “hari baik menanam” yang masih diyakini di Dusun Purwa. Namun ia lupa hari “pasaran”nya hari apa saja. Termasuk hari baik menanam kelapa. Kebetulan di antara pemuda dusun seperti Marji, Dahlan, dan Herman yang sedang menurunkan bibit kelapa itu ada Pakdhe Sugima, tetangga dekat yang rumahnya “adu awak” (beradu badan) dengan rumah Pakdhe Panggih. Mbah Kasta menanyakan perihal itu kepada Pakdhe Sugima. Pakdhe Sugima dianggap memiliki “kawruh” (pengetahuan) tentang hari baik menanam. Pakdhe Sugima menginformasikan bahwa hari baik menanam kelapa di dusun mereka adalah “sêlasa wagé”. “Sêlasa wagéné kapan, nggih?” Mbah Kasta melanjutkan pertanyaannya. “Sêlasa wagéné ya suk sêlasa!” jawab Pakdhe Sugima terkesan melucu, lantas meneruskan beberapa informasi serius seputar perkelapaan. Misalnya, 1) informasi tentang umur kelapa hingga sampai berbuah berapa tahun; 2) informasi tentang tatacara menanam pohon kelapa yang baik sesuai pesan leluhur: membawa bibit pohon kelapa yang akan ditanam dengan meletakkannya di pundak kemudian menurunkannya dengan berhati-hati melalui sekujur tangan, maknanya agar si kelapa nantinya bercabang, berdaun, dan berbuah banyak, posisi tubuh si penanam duduk bersila, ketika “ulur” (menanam) sambil merapal doa-mantra: “Sri kitri êndhèk awoh dhuwur ndadi!”, setelah bibit masuk ke dalam lubang tanam lalu menutupinya dengan tangan dan “sikut”‘ (siku tangan) dan tak boleh menginjak-injakinya menggunakan kaki, 3) informasi bahwa pohon kelapa yang sudah tumbuh biasanya dimakan hama bernama “gêndhon” (kala masih bertempat di kotoran ternak; sebesar jempol kaki) atau “kwawung” kala telah memangsa tunas kelapa; 4) informasi hari baik menanam pohon lain seperti menanam “gêdhang” (pisang) pada hari pasaran “kliwon” dan “pon”, dan menebang bambu pada pasaran “pon” atau menanam bambu pada hari “lêgi”.


maturnuwun sangat menarik, lugas opo anane
maturnuwun pak,