Pagi ini, sesampainya di rumah, aku melihat iratan pring di belakang rumah. Sepertinya bapak baru saja selesai membuat tali dari bambu. Sekejap aku teringat pesan bapak 3 hari yang lalu, “sok sêtu ènèk acara ora lé? Nèk ora muliha ngarit pari,” (besok sabtu ada acara tidak le? Kalau tidak pulanglah, panen padi).
Belakangan bapak memang selalu melibatkanku dalam pekerjaan pertaniannya. Terutama saat macul nggarap sawah, mluku, dan panen. Mungkin karena anaknya sudah dewasa namun tak kunjung becus bertani atau karena usia bapak yang sudah semakin tua. Tak bisa dipungkiri lagi, di usianya yang sudah menginjak 60 tahun ia sudah cukup kewalahan menggarap beberapa lahan garapan.

Sekarang bapak menggarap 5 lahan garapan, 2 berupa sawah dan 3 berupa tegalan. Bapak bukanlah orang kaya raya, bapak juga bukan juragan tanah, kondisi semacam ini lumrah di Pringamba. Satu kepala keluarga memiliki 3-6 lahan garapan. Itupun masih banyak lahan garapan yang dibiarkan bêra (tidak ditanami). Sebagian besar lahan garapan dibiarkan bêra karena pemiliknya sudah tua, anak cucu tak mau bertani.

Ketimpangan antar jumlah petani dan lahan garapan membuat petani di Pringamba harus bersiasat agar tanah tetap terolah. Salah satu caranya adalah sambatan. Strategi saling bantu, bertukar tenaga dengan saudara atau tetangga agar pekerjaan pertanian lebih cepat selesai.

Hari ini, dalam pe-raya-an ngarit pari, bapak dibantu oleh beberapa sanak saudara. Masing-masing dari mereka langsung menempatkan diri di posisi masing-masing. Bagian ngarit didominasi oleh ibu-ibu, sementara tugas ngusungi pari ke gubuk dilakukan oleh bapak-bapak. Pari kemudian dirontokan dengan mesin èrèk oleh juru sopir dibantu kêrnèt/pêladèn yang mengambilkan segemgam pari. Aku biasanya mengambil posisi yang gampang seperti kêrnèt/pêladèn ini.

Butir-butir gabah meluncur keluar melalui belakang mesin èrèk. Mamak sudah siap sedia di belakang membersihkan kotoran dengan menggunakan irik (saringan bambu). Gabah yang sudah bersih lalu dimasukkan ke dalam karung-karung bekas pupuk atau gula.
Panen kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena jatuh di bulan puasa. Tak ada wèdangan atau ingon. Namun guyub-rukun sambatan masih terasa sangat hangat di antara kami.
Editor: Dian Anjar Nugroho

