Sastra Sêklimah Membawa Cerita ke Kota dalam  Pameran Sangaskara

Sastra Sêklimah Membawa Cerita ke Kota dalam Pameran Sangaskara

Bagikan ke :

Seorang berkepala tempat sampah berjalan di antara penonton. Kedua tangannya membawa setumpuk kertas. Sesekali ia berhenti, mengulurkan selembar kertas dan spidol merah kepada orang-orang yang tersebar di area JNM Bloc. Aku melihatnya dari sini, di antara daun beringin.

Orang-orang tidak akan tahu keberadaanku. Aku bisa berkelebat, melesat, ataupun bersembunyi di antara kerumunan. Lebih dari itu, aku bisa melihat dengan amat presisi setiap hal yang terjadi. Seperti tulisan yang tertempel di dada orang itu, misalnya. Kalimat merah menyala berbunyi: “Tulis keresahan hidupmu, lalu buanglah ke kepalaku.” Sebuah perintah—untuk siapa?

Seseorang yang menerima spidol merah mulai menulis di kertas kosong. Tangannya bergerak cepat. Setelah selesai, kertas itu diremas, dilumat hingga menjadi bola kecil, lalu dilempar ke seseorang berkepala tempat sampah. Nyemplung. Aku bertanya-tanya, keresahan apa yang diremas sedemikian rupa dan dibuang secepat itu?

Lelaki berkepala tempat sampah di antara penonton (Foto: Sangaskara)
Lelaki berkepala tempat sampah di antara penonton (Foto: Sangaskara)

Aku berpindah tempat, dari beringin ke atas atap ruang pameran Sangaskara. Berkelebat secepat kilat, menjaga jarak, seperti tak ingin ikut terlibat. Di bawahku, orang berkepala tempat sampah itu berjalan mendekati kerumunan. Penonton lain menyusul, meminta spidol merah dan kertas. Dari arah utara, seorang perempuan berlari. Ia tersenyum. Ia juga ingin menulis sesuatu, rupanya. Ini kesempatanku. Jangan sampai kata-kata itu lepas lagi.

Aku menunggu. MC muncul ke tengah, menarik perhatian orang-orang barang sejenak. Itu celahku. Aku mendekat. Aku melenting ke arah beringin lagi, cepat sekali, melesat di atas kepala perempuan itu.

“Aku lelah hidup di Indonesia.”

Pas! Presisi. Kalimat itu tertulis jelas di kertasnya. Singkat, padat. Aku membacanya sebelum kertas itu diremas dan dibuang ke si kepala tempat sampah. Sesampainya di pucuk pohon beringin, ada sesuatu yang tertinggal di dadaku. Sesuatu seperti pertanyaan, atau barangkali gelagat.

Si kepala tempat sampah berjalan ke tengah. Ia mengambil mikrofon dari tangan MC. Tatapannya menyapu penonton. Dari saku celananya, ia mengeluarkan selembar kertas. Beberapa detik kemudian, ia berbicara:

“Apa yang terjadi di negara kita belakangan ini, bahkan sejak dulu—tentang kerusakan alam, kerentanan sosial, kebijakan penguasa yang selalu darurat, ketidakadilan bagi ulayat, hingga banjir di Sumatera—sudah semestinya menjadi titik pijak kita untuk menengok ulang serta menelusuri lebih jauh bagaimana relasi antara manusia dan alam selama ini berlangsung.”

Aku berpindah lagi. Kali ini ke lantai dua, duduk di kursi paling pojok. Dari atas, kulihat kepala-kepala penonton serempak menoleh ke arahnya. Ia melanjutkan:

“Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami percaya bahwa seni dapat menjadi ruang untuk bersuara. Seperti halnya Wayang Uwuh, yang berangkat dari kegiatan sehari-hari senimannya dalam menghadapi sampah-sampah di pantai-pantai Gunungkidul yang kian masif seiring bertumbuhnya laju pariwisata.”

Setelah kalimat itu, suasana hening. Cahaya senter diarahkan ke seorang dalang yang duduk di balik wayang-wayang yang tertancap di gedebog pisang. Lalu suara itu muncul—gedombrengan dari kaleng-kaleng bekas. Bunyi yang asing bagi telingaku.

Wayang Uwuh: Senik dan Thukul Pesannya Mantap Betul

Mataku mencari sumber bunyi itu, hingga berhenti pada deretan pipa paralon: besar ke kecil, panjang ke pendek. Ketika dipukul, bunyinya: “bung”, “pong”. Selain itu, dipukul pula tempolong bekas, kotak, tabung—besar maupun kecil.

Daur ulang sampah menjadi alat musik (Foto: Sangaskara)
Daur ulang sampah menjadi alat musik (Foto: Sangaskara)

Bunyi itu disusul dialog dalang yang berkisah tentang lingkungan di sebuah desa bernama Lato-lato. Melalui dua tokoh wayang, Thukul dan Senik, ia membuka pertunjukan dengan kisah tentang rusaknya lingkungan akibat kebiasaan buruk warga desa dan praktik korupsi sebagian aparatur pemerintah daerah.

“Gimana kabar dari desa, Mak?” tanya Thukul.
“Ya seperti biasa, Nak,” jawab Senik.
“Warga desa masih banyak yang melakukan kebiasaan buruk, seperti buang sampah ke sungai, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Begitulah penggalan dialog yang dilontarkan sang dalang—sederhana, tapi nylenthik.

Wayang Uwuh yang didalangi oleh Mas Bambang (Foto: Sangaskara)
Wayang Uwuh yang didalangi oleh Mas Bambang (Foto: Sangaskara)

Aku masih ingat betul, di awal pertunjukan, kepala tempat sampah itu memberi semacam pengantar. Apa yang kusaksikan saat ini ia sebut Wayang Uwuh. Jika tidak keliru, Wayang Uwuh berangkat dari praktik keseharian para pementasnya—dari sebuah gerakan sederhana: memulung sampah—yang digubah oleh kolektif bernama Deruk Cemung.

Menarik. Wayang Uwuh menyuguhkan krisis ekologis melalui media yang tercipta dari krisis itu sendiri, sebagai upaya pembacaan ulang hubungan manusia sebagai jagad cilik dengan jagad gedhe-nya.

Surat Suratin: Dari Gunungkidul ke Sumatera

Perlahan, suara gedombrengan menghilang. Suasana hening kembali. Dari sisi utara, berjalan seorang pria tanpa rambut kepala. Jenggotnya panjang, kumisnya tebal—warnanya tampak dua: pirang dan putih. Ia berjalan ke tengah, berdiri tepat di atas karpet. Ia mencabut mikrofon yang tertancap. Napasnya berat.

“Surat Suratin,” suaranya menggema.

Aku merangkak ke bawah, mengintip dari balik akar tua yang menjulur ke tanah. Orang tanpa rambut kepala itu mulai bercerita dalam bahasa Jawa. Ia mengisahkan seseorang yang merantau ke Swarnadwipa. Suratin, namanya.

Monolog oleh Mas Harmanto membawa cerita “Surat Suratin” (Foto: Sangaskara)
Monolog oleh Mas Harmanto membawa cerita “Surat Suratin” (Foto: Sangaskara)

Katanya, pada tahun 2001, Suratin yang berasal dari Rongkop, Gunungkidul, pergi merantau ke pulau emas itu bersama Kang Heru, Darto, serta sepuluh orang lainnya.

Sembari menunggu jemputan menghampiri, dielus-elusnya perut Sulastri, kekasih yang lagi mengandung buah hati. Delapan ratus ribu rupiah diulungkannya ke istri untuk jaga-jaga kelahiran si bayi–pemberian si Mandor sebelum Suratin menerima gaji. Waktu pun tiba, Suratin tinggalkan kampung halamannya. Berangkatlah ia bersama 12 orang lainnya. 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, Suratin tiada kabar. Hati Sulastri kian berdebar. Gaji bulanan tak pernah diantar. Apa yang telah dilanggar? Mungkinkah Suratin tak pernah dibayar? Daun telingaku melebar, mendengar suaranya yang kian samar.

“Kaya diuntal sepi ning wengi-wengine Sulastri,” ucapnya nggegirisi. 

Waktu berlalu, seorang pegawai Kalurahan mengantarkan surat. Untuk Sulastri, dari Suratin. Dibacakannya Surat itu, pelan, menyendu. 

“Kanggo bojoku Sulastri. Sepurane ya, Tri, Aku lagi kirim kabar. Aku sakanca wis kapusan. Jebul, aku ora dikon nyambut gawe ning perusahaan sawit. Nanging aku dikongkon nyolong wit-witan gedhe neng alas gung liwang-liwung.
Kayu-kayu glondhong dikethoki, diglundhung-glundhungke menyang kali, banjur ditampani prau–digawa mbuh menyang endi.
Tri, Kang Darto karo Heru wis mati, ketiban kayu glondhong. Agung uga wis mati merga berusaha melarikan diri. Dene Lik Darman iki sikile cacat merga ketiban kayu. Saiki karo aku.
Tri, saiki aku wis tekan pelabuhan merak. Wis telung minggu aku golek buruhan, nggo nggolek sangu mulih. Tulung ya, Tri. Kabarno keluargane Kang Darto karo Heru, menawa dheweke wis ora ana. Lan kanca-kanca liyane aku ora ngerti, mbuh nasibe.”

Kepalaku menunduk, nafasku terhela. Perbudakan tak pernah habis rupanya. Sialan! Aku teringat cerita beberapa ratus tahun yang lalu, tentang orang-orang yang membawa batu-batu. Setiap hari mereka pulang pergi antara Bara-Merapi. Orang-orang itu tak semuanya diberi imbalan, ada yang hanya namanya dicatat di prasasti, ada pula yang sama sekali tak mendapatkan apa. Ada yang sawahnya dibeli dengan berkeping emas, adapula yang direbut begitu saja. Apakah pantas berlaku begini demi sebuah bangunan suci? Sungguh malang orang-orang itu, sungguh malang Suratin dan para sahabat, sungguh malang ini dunia. 

Inikah yang membuat kepala lelaki itu dipenuhi oleh sampah-sampah keresahan? Mungkinkah sampah-sampah yang dibuang ke kepalanya bercerita tentang hal yang sama seperti yang ditulis oleh perempuan itu? Seperti yang diceritakan si dalang? Seperti pula yang diceritakan pria tanpa rambut kepala? Lalu dari manakah sampah-sampah itu berasal kalau bukan dari dalam pikiran!

Semacam Uwuh yang Embuh

Aku masih di balik akar beringin. Sepasang mata diam-diam melihatku. Aku merasakannya meski tak memalingkan kepala. Jantungku berdebar. Setelah aku keluar dari goa petapa–ini kali pertama ada yang tahu keberadaanku. Siapakah iya? Orang sakti mana kiranya yang masih tersisa di zaman kehancuran ini? Aku berkelebat!

Monolog oleh Mas Ribut Eugh (Foto: Sangaskara)
Monolog oleh Mas Ribut Eugh (Foto: Sangaskara)

Ia merangkak! Mungkinkah ia lelembut? Ah, mana mungkin. Setahuku, lelembut tak ada yang seperti itu, sekalipun orang jaman sekarang berpikir kalau lelembut hanyalah buah khayalan-ketakutan. Atau, jangan-jangan, orang jaman sekarang begitu takut dengan sampah plastik? Sampai-sampai plastik itu bermanifestasi menjadi lelembut? Emm, mereka takut oleh sesuatu yang mereka hasilkan sendiri, begitu?

“Aku sapa? Kowe Sapa? Sampeyan sapa? Sing jelas aku rereged! Aku isa ndadeke kruma! Aku adalah uwuh! Uwuh adalah sampah, sumpah serapah! Uwuh numpuk sansaya aeh, menawa ora ana sing peduli. Aku, kastaku sing paling rendhah, sing diidak-idak, sing diariani ndadekke penyakit, ndadekke bencana. Aku ngalor-ngidul, ngulon-ngetan, munggah muduhun, gebentus. Aku nyangkut ana ing wit-witan, kegawa banyu mili, mesthi wae sing disalahke aku lan alam. 

Sosok itu menyeret kaki-kakinya, sempoyongan, tubuhnya plastik! Sampah-sampah melekati tubuhnya, sungguh kumuhnya.

Menungsa, kanca-kanca Deruk Cemung wis miwiti padha gerak-cilik nyingkirake, milah kresek, gembreng. Dipilah-pilaha, ananging, aku ora bakal ilang. Aku ora bakal entek! Menawa menungsa ora gelem sadhar, kawit mau ana sing ngandharake: buanglah sampah pada tempatnya! Banjur aku kowe panggone neng endi? Aku dhewe bingung. Nanging jawaban sing paling becik, mikir kabeh, mikir kanthi cara wening bilih sampah kuwi bakal tetep ana lan ana. Ora bakal ilang menawa ora ngilangke ing pikiran. Sampah manggon ana ing pikiran. Menawa kowe mikir aku iki sampah, mesthine aku ora kanggo. Isa ora wiwit saiki, tumprap kanca-kanca kabeh, carane ngunggahke kasta, supayane si sampah kuwi ora ana?

Selesai sosok itu bicara, ia menoleh ke arahku, cilaka! Ia benar-benar tahu keberadaanku. Sebagaimana kata guru, demi sempurna ini ilmu, aku tak boleh menampak diri. Oleh sebab itu, aku meluncur ke atas lagi, ke daun paling ujung kemudian meyatukan kedua telapak tangan lalu menghilang bersama angin ke selatan. 

Sayang, seni pertunjukan tidak sepenuhnya bisa diarsipkan karena ia bersifat kini dan di sini, ia terikat pada liveness. Jadi, tak genap pula aku menceritakan pertunjukan ini padamu. Sebab, ada suatu takut, bahwa terlalu banjir penafsiran rawan jatuh pada kerja-kerja: mendistorsi, mengubah, mengerdilkan karya pertunjukan itu sendiri. Karenanya pula aku hanya menceritakan kembali. 

Salam

Petapa Gunung, 2025.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *