Di antara Harapan dan Reruntuhan, Universitas Gunung Kidul Menggelar Festival Pertamanya.
Mystical Fest: Gunungkidul Arane, 2025 (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Di antara Harapan dan Reruntuhan, Universitas Gunung Kidul Menggelar Festival Pertamanya.

Bagikan ke :

Untuk pertama kali sejak 24 tahun berdiri, Universitas Gunung Kidul menggelar pameran seni rupa dan pertunjukan teater. Keduanya hadir dalam sebuah gelaran bertajuk Mystical Festival yang berlangsung selama tiga hari, 11-13 Agustus 2025. Festival ini diinisiasi oleh UKM yang baru saja dirintis bernama ROS, UKM kesenian pertama di Universitas tersebut. 

Oleh sebab itulah, waktu tak seperti biasanya yang tergesa melemparmu ke kasur sepulang kerja. Kau memilih datang ke tempat di mana kepalamu tak pernah menengok ke sana. Sebab kau sangat yakin, kau akan tua dan kehilangan wejangan, sebelum itu terjadi, kau harus menyempatkan. 

Mystical Fest: Gunungkidul Arane, 2025 (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Di sepanjang jalan tanpa lampu depan, tubuhmu bergetar, rasanya seperti pertama kali kau kencan: memastikan tubuhmu tidak bau, dan pakaianmu cukup rapi, memastikan kalimat pertama yang harus diucap, dan lain sebagainya. Memang benar kata seorang pujangga, segala yang pertama seringkali mencerabutmu dari diri sendiri, menenggelamkanmu pada imajinasi kesempurnaan. 

Semacam ada lain ikatan antara dirimu dengan festival tersebut, bukan ikatan antara seni dengan penikmat seni, bukan. Perlu kau akui, kau dan seni tidak seakrab itu. Dan oleh sebab itulah kau tak kunjung mengerti mengapa kemudian untuk pertama kali pula kau menulis catatan, yang sudah jelas kau tak paham ukuran serta batasan-batasannya. 

Ketika sampai di kampus pertama, kau dan keterasingan saling menatap. Kau melihat beberapa mahasiswa masih menyelesaikan dekorasi di depan. Di antara dua gedung berwarna biru, berdiri panggung kecil berlatar belakang seng, lengkap dengan operator sound system di sampingnya. Sedang di depan panggung berjejer kursi-kursi, kosong. 

Kau pun dipahamkan, bahwa kekosongan dan keterasingan tak seperti yang selama ini kau pahami: menyedihkan, dingin, ditinggalkan. Kau tersadar bahwa di tempat yang paling asing kosong sekalipun, selalu ada jiwa-jiwa yang bangkit, jiwa-jiwa yang dipinggirkan, dan setiap yang dipinggirkan pasti lebih bernyawa, bukan? Barangkali inilah yang mengikatmu dengan festival itu. 

Pada mulanya: sebuah perjumpaan

Kau beringsut menuju meja pertama, menjumpai buku-buku Gunungkidul yang disusun rapi, disertai pula produk daur ulang dari kawan-kawan Sedusun. Di sampingnya ada semacam buku tamu, tentu tak perlu mengisi, sebab meskipun terasa asing, kau masih di rumah sendiri. 

Mystical Fest: Gunungkidul Arane, 2025 (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Sejenak kau melamun, atau lebih tepatnya tenggelam di kedalaman. Tersadar jika jarang sekali menjumpai ini buku. Sekalinya berjumpa, ia berada di ruang-waktu yang serupa dengan narasi yang dibawanya. Buku-buku yang tak pernah salah tempat, ia tahu di mana harus hadir, bersikap, sekaligus mendukung. 

Lantas kau teringat sebuah tekad lampau, bahwa seni mestilah berpihak pada rakyat, seni mestilah bertolak pada realitas. Dari sekilas ingatan itulah, kau paham, mengapa buku-buku tersebut dihadirkan, mengapa UKM kesenian mulai dirintis, mengapa dinamakan ROS, mengapa kemudian festival ini hadir, sekaligus mengapa tema pameran dalam festival ini adalah “Gunungkidul Arane: Sunyi yang Bersuara.”  

Pastilah kau sepakat jika di dalam kesunyian, selirih apapun suara pasti terdengar. Dan ketika kau mendengar suara itu, seketika pesimisme akan kemajuan serta mitos-mitos tertinggalnya manusia pinggir hengkang dari kepala. Festival ini pun kau baca sebagai sebuah pengusiran terhadap rasa rendah diri serta lemah watak yang selama ini, tanpa disadari, diinjeksi oleh yang disebut pusat: anasir-anasir yang perlu kiranya untuk dicurigai, ditimbang ulang, dan diusut benang ruwetnya. 

Sebagaimana yang sedang kau usut dalam sebuah kecurigaan, yang kemudian membuatmu bertanya “Seberapa berjarak kesenian di Gunungkidul dengan alamnya?”. Karena seringkali kau berpikir, bahwa karya seni merupakan representasi diri masyarakat, dan antara masyarakat Gunungkidul dengan realita alamnya adalah sepasang kelanggengan. Oleh karena itu, malu rasanya jika yang dipertontonkan kepada masyarakat sama sekali tidak merepresentasikan kebudayaan masyarakat itu sendiri, atau dalam pengertian lain karya seni kehilangan konteks dan aktualisasi. 

Melawat ruang pameran

Setelah terpangah dengan buku-buku, lantas kau membuka gawai, mencari akun instagram festival. Dari sana kau melihat status @myst.fest. Ternyata sebelum kau datang, Mbah Walodeng sudah lebih dulu menebar bunga tujuh rupa di depan panggung, tentu dalam sebuah pertunjukan. Dengan semacam keyakinan, kau percaya festival ini sudah didoakan beliau, begitu pula dengan mitos-mitosnya.Untung saja kau masih percaya doa-doa, masih percaya mitos-mitos yang ditepikan. Sehingga kau cukup yakin untuk masuk ke ruang pameran di sebelah kanan panggung itu–untuk mengalami kesenian dengan selamat.

Narasi pengantar kuratorial ditempel di samping pintu masuk, tanpa penerangan. Namun tidak menjadi soal, ini tampak lebih baik bagimu, betapa kau sangat setuju jika kata-kata ditempatkan di keremangan saja. Lagi pula kau sudah terbiasa melihat wacana pinggiran secara tidak sadar diposisikan di antara jelas dan samar.

“Pameran seni rupa “Gunungkidul Arane” mengajak kita untuk menengok kembali akar yang mulai tercabut. Hadir sebagai ruang kontemplatif, tempat karya-karya bicara. Mengusung tema Mystical, pameran ini bukan hanya sekadar membangkitkan memori akan mitos dan budaya lokal, tetapi juga menggugat bagaimana modernitas, pembangunan, dan ekspansi pariwisata seringkali menggerus ruang-ruang yang seharusnya dijaga.” Dengan presisi kau cukilkan narasi yang ditulis oleh Niken Puji Lestari.

Meskipun telah disampaikan pameran ini “menggugat” bagaimana modernitas, pembangunan, dan ekspansi pariwisata memposisikan mitos dan budaya lokal dalam kerentanan, kau tidak tergesa-gesa meletakkan wacana pameran ini pada tataran seni rupa sebagai media resistensi. Bisa saja “menggugat” dalam narasi tersebut lebih bersifat menegosiasi.” Negosiasi atas luruhnya kebudayaan lokal yang disebabkan oleh modernitas beserta anak cucunya. Sehingga, jika diletakkan pada tataran yang seperti itu, pameran berpotensi memantik percakapan dari banyak arah dan posisi, memberi ruang pada kontestasi yang sehat, setidaknya menurutmu.  

Pada mulanya, setelah kau memasuki ruang pameran, kedua matamu tertuju pada kipas angin yang bergeleng-geleng dan juga proyektor yang posisinya tak genap berada di tengah, serta tiga pasang colokan yang menempel di sudut kiri depan ruangan. Dari tata ruang tersebut lantas kau gegabah menyimpulkan: ini ruang kelas atau semacamnya. 

Si Trondol, Acrylic on calender, karya Feby Aulia. Dalam Pameran “Gunungkidul Arane” (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Kau semakin yakin ketika beberapa lukisan dipajang di dinding berbeda warna, ada jendela tertutup papan berwarna kuning di sana. Di deretan tersebut, tiada jarak antar lukisan yang ditentukan, beberapa berhimpitan, beberapa yang lain renggang, beberapa lukisan juga tanpa catatan–tak dapat diketahui judul dan pelukisnya. 

Oleh komposisi tersebut kemudian kau mengerti, bahwa tidak semua harus kau ketahui, kau pahami. Beberapa hal akan lebih baik jika tetap dirahasiakan. Justru komposisi yang menyisakan pertanyaan ini memantik ingatanmu pada kosmologi Gunungkidul itu sendiri: disamarkan; tumpang tindih; dihilangkan, namun dari sanalah dengan bangga kehidupan berangkat. 

Berdasar pada ingatan itu, kau pun melihat celah-celah di ruang pameran sebagai sesuatu yang sungguh performatif dan bertumpu pada realitas yang ada, lahir dalam kegentingan, dengan keberanian sekaligus keraguan. Ia menciptakan ruang kemungkinan sekaligus undangan bagi generasi berikutnya untuk terus merawat ruang ini secara bersama dan turun temurun. Bukankah ini terdengar tidak asing? terlebih ketika mencatatnya dalam suasana kemerdekaan ini. 

Ada semacam semangat yang sama antara kesiapan pameran dengan teks proklamasi kemerdekaan. Barangkali karena keduanya sama-sama lahir dari keterbatasan, kegentingan, dan kebangkitan yang harus disegerakan. Keduanya sama-sama tak punya keistimewaan waktu untuk menyandarkan tubuh sembari ongkang kaki memikirkan seni. Oleh sebab kesamaan tersebut, bolehlah jika pameran ini dibaca sebagai sebuah keberanian dalam desakan, sebuah upaya memerdekakan diri. Dan barang siapa merasakan hal yang sama dengannya, hanya ada satu pilihan: bergeraklah!  

Selaras dengan semangat memerdekakan diri itu, kau merasakan bagaimana ruang pameran disulap menjadi medan negosiasi, di mana lukisan adalah argumen yang kontekstual dan aktual. Pembedanya adalah, kemerdekaan di ruang pameran ini tidak hadir dari tokoh-tokoh besar, ia hadir dari orang biasa.

Antara Sanglen, Kembang Lampir, dan Tidak Baik-baik Saja

Belakangan memang kau amati, lukisan karya perupa Gunungkidul tak pernah loncat dari lintasan sejarah; realitas masyarakat terkini; hingga lukisan sebagai argumen. Kedisiplinannya jelas tampak melalui exhibition maupun diskusi terbuka. Beberapa pameran yang terakhir kau kunjungi memiliki kausalitas yang saling menopang. Kau melihat bagaimana kanvas, kuas, dan cat menjadi piranti menuju jati diri.

Ketekunan serupa hadir pula pada pameran ini, ketika dari jauh, sudut gelap matamu menangkap kuning backhoe. Segera kau ketahui lukisan tersebut berjudul “Pantai Sanglen” karya Rafael Ostamico. Meskipun kau tak paham bagaimana cara menatap lukisan, tetapi kali ini kata-kata banjir di kepalamu.

Pantai Sanglen 2025, kertas A3, karya Rafael Ostamico. Dalam pameran “Gunungkidul Arane” (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Seakan tubuhmu turut luruh dalam kegentingan dan keterdesakan. Perasaan ingin segera beranjak dari kenyamanan hidup itu muncul, menggusurmu ke selatan, ke sebuah pantai bernama Sanglen. Dalam suatu perjalanan dramatik yang ditawarkan, kau menggaris bawahi bahwasannya lukisan ini dibangun dari momen-momen, diberangkatkan dari wilayah ketidakadilan. Sialnya, kau tak punya mata sebagai rupawan. Sehingga ketika menulis catatan, kau masih berada di antara, tidak tegas batasnya, tentu rawan meleset. 

Kendati demikian, kepalamu yang kadung banjir kata-kata membawamu pada suasana ndredeg yang serupa, perasaan yang muncul sewaktu mengerjakan skripsi, ketika kau membaca suatu kurun bernama OrBa dan sebelum-sebelumnya, olehnya kemudian kau terhubung dengan lukisan itu melalui tiga kata kunci: seni, otoritarianisme, dan pembangunanisme.   

Barangkali dengan kata kunci tersebut, kau yang berjarak dengan seni rupa mampu memahami wacananya. Sehingga penggusuran yang dilukiskan mampu bermigrasi ke ruang nyata di mana kau berdiri, di mana kau hidup, di mana pada kenyataanya sejak tahun 2022 sampai saat ini, warga yang menyambung nafasnya di pantai Sanglen dipaksa merungkati warung-warungnya. Begitu kiranya yang kau baca di berita-berita. 

Percakapan pun terbuka, “Pantai Sanglen, 2025” mengawali keterhubungan antar lukisan. Menambal perasaan kosong yang sedari awal menjangkit keawaman. Olehnya kau mengajukan pertanyaan: Apa yang pasti di Sanglen sekarang ketika pembangunan berarti pula keruntuhan? Apa yang pasti ketika negosiasi antara warga dan penguasa berarti pula pengusiran? Apa yang pasti ketika pembangunan selalu menciptakan keterasingan?

Kipas angin masih geleng-geleng, dan malam kian entah. Tubuhmu bergeser ke kanan, beberapa langkah. Kau dongkak kepala awammu, menatapkan segala pertanyaan itu pada lukisan bernama “Petilasan Kembanglampir” karya Iwan Setiawan. 

Petilasan Kembanglampir, acrylic on canvas, karya Iwan Setiawan. Dalam pameran “Gunungkidul Arane” (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Dibawalah kau ke masa lampau, tenggelam pada suatu kisah. Tentang seorang Ageng yang bertapa, mencari wahyu raja. Lalu tibalah suatu selisih, antara dua saudara, hingga berkejaran sampai timur Gunungkidul jauhnya. Wahyu raja pun direbut tangan, sekalipun dijanjikan kembali setelah tujuh turunan. Tetapi pada kemudian nanti, kehilangannya sama saja kehilangan tanah dan kehilangan hak atas tanah, sama pula kehilangan kedaulatan hidup. Apakah ini ketetapan? apakah Sanglen juga ketetapan? Sungguh, di ini keadaan, setiap waktu adalah penghabisan, di ini keadaan, nasib bukan lagi kesunyian masing-masing. O, Ki Ageng, pria sejati tak pernah ingkar janji, kembalikanlah, batinmu.

Tak henti kau termenung sendiri, ketika semuanya berlalu, bergerak. Ya, waktu kadang cemburu, ia tak rela memberimu kelambatan untuk merenungi rumahmu, dirimu, atau sekadar untuk memastikan oleh siapa dan untuk siapa ini semua. 

Tidak Baik-baik Saja, acrylic on canvas, karya Asto Puaso (Mbah Lanang). Dalam pameran “Gunungkidul Arane” (Dok. Dian Anjar Nugroho)

Kau habis, kering-terdiam di depan lukisan. Menggalih malih, betapa ketidakadilan di ini pameran menyulut kelam diri. Membuatmu berpikir bahwa dirimu hanya seorang “pengunjung,” pengunjung pameran, pengunjung di tanah yang kau cintai, serta pengunjung pula di jagad raya ini. Kau penuh sadar bahwa kelak pada waktunya, pasti akan pergi meninggalkan yang dimiliki. Namun pergi dengan “beradab,” bukan “diusir” ataupun dirapuhkan oleh bayang-bayang kualat. 

“Nggih ta mbah?” pungkasmu akhiri lawatan, sembari memandang lukisan kemerah-merahan seperti senja kekacauan. Tidak seperti lukisan Mbah Lanang yang lain, kali ini tak ada yang “merem” di lukisan beliau. Dia, Mbah Gundul itu, memandang jauh, memunggungimu, memberimu pitutur, menujukan padamu tentang yang sedang terjadi dan dari sudut mana harus melihat semua ini. Nggih

Hari ketiga, puncak: pertunjukan teater oleh UKM ROS

Gerimis panjang di antara harapan dan reruntuhan. Sebuah pertunjukuan teater hadir di sela-selanya, membahas yang lampau dan akan. Melalui naskah berjudul “Suwuk” yang diolah menjadi delapan babak, ROS menjembatani dunia yang dipinggirkan kepadamu. Mengajakmu berkunjung ke rumah Aryo, seorang pewaris belik dan ilmu suwuk.

Suwuk, oleh ROS. Dalam Mystical Festival (Dok. Handayanese)

Berjangkar pada cerita, ini pertunjukan mendedah dampak pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) terhadap kebudayaan lokal, kususon terhadap pertahanan kesehatan masyarakat tradisional. Olehnya, kau dihadapkan pada konflik antara Aryo yang berusaha mempertahankan belik dari Pak Dukuh dan Mas-mas PUPR yang berusaha membeli tanahnya demi kelancaran pembangunan JJLS. 

Dari sana kemudian cerita menuju pada satu lokus penting: belik. Sumber mata air yang berada di tanah warisan milik Aryo ini dipercaya sebagai lantaran sembuhnya warga yang sakit–melalui ilmu suwuk yang diwarisi Aryo dari keluarganya. Lain sisi yang kau baca ialah bahwa pelenyapan terhadap lokus penting: belik, berarti pula penghancuran terhadap ilmu pengetahuan yang melekatinya. Semacam ada dua pintu yang dapat kau masuki, kedua pintu tersebut mengantarkanmu ke ruangan yang sama, yaitu: kehancuran perlahan, kehancuran alam dan kehancuran kepercayaan. 

Kau kembali ke lalu, ketika wedangan bersama seorang pandit, menuntaskan malam dengan bergumul perihal kelit-kelindan pertunjukan di Gunungkidul dengan alamnya. Sebagaimana yang kau tahu, alam menyokong segala lini kehidupan masyarakat Gunungkidul, ia menurunkan: ilmu pengetahuan, mitos, cerita tutur, aneka pangan, ritus, kesenian, hingga kepercayaan. 

Namun ketika alam Gunungkidul sedang tidak baik-baik saja (atau bahkan selalu), apakah ia masif dibicarakan melalui pertunjukan di Gunungkidul? atau setidaknya apakah ia sudah sejajar dengan cerita romantisme-historis yang kerap kali menjadi tema tahunan di sana itu? Kau menilik ulang, terus menerus sampai sekarang…..

Malam pun larut dalam satu teguk renungan, memaksa tubuhmu perlahan undur diri. Segera kau kemasi pertanyaan-pertanyaan, lalu berpamitan. Kau beranjak ke parkiran, kembali mengendarai vega merahmu tanpa lampu, membiarkan perjalanan tetap tak terduga. O, Gusti, kemanakah hidup menuju, ketika ini zaman tak menawarkan apa-apa selain keterasingan dan keruntuhan bersama. 

Berdayalah!

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *