Kelompokan merupakan istilah yang disepakati oleh masyarakat tani Gunungkidul untuk menyebut kegiatan mengolah lahan yang dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama. Nama kelompokan dipilih karena dalam praktik kerjanya dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok dapat berjumlah lima sampai sepuluh orang, biasanya terdiri dari tiga atau lebih ibu-ibu dan dua sampai tiga bapak-bapak.
Kegiatan ini lumrahnya dilakukan saat musim ngawu-awu tiba. Musim ngawu-awu adalah musim mempersiapkan lahan dengan cara menabur benih di tanah kering. Tujuannya agar nanti ketika musim hujan telah tiba, apa yang telah ditanam dapat tumbuh secara maksimal.

Dalam pelaksanaan kelompokan, pemilik lahan akan nyambat (meminta tolong) kepada tetangga atau saudara. Orang yang dimintai tolong kemudian mencari anggota tambahan, dengan jumlah yang menyesuaikan permintaan penyambat. Jumlah tersebut berkaitan dengan upah yang akan diberikan. Biasanya, upah dapat berupa uang atau ijol bahu (membalas dengan tenaga), tergantung kesepakatan awal yang telah disetujui bersama.
Dalam satu kelompok, setiap individu memiliki peranannya masing-masing. Pemilik lahan biasanya menyediakan bibit padi yang akan ditanam, sementara yang lain bertugas membuat parit, dan sisanya bertugas mengisi parit dengan benih lalu menimbunnya. Piranti atau alat yang digunakan untuk membuat parit umumnya adalah garu, sedangkan wadah benih yang digunakan dapat berupa ember, toples, atau gayung.

Umumnya garu dioperasikan oleh bapak-bapak dengan cara berjalan mundur sembari menarik bagian pegangan dengan posisi badan menghadap ke bagian untu garu yang tertancap di tanah. Dalam satu kali jalan, garu akan meninggalkan bekas berupa lima baris parit yang selanjutnya akan menjadi tempat menabur benih.

Pengisian parit dengan benih padi dilakukan oleh ibu-ibu yang berbaris dan bergerak maju, bersilang dengan alur parit yang melintang. Gerakan maju tersebut memungkinkan benih padi yang telah diletakkan di parit tertimbun oleh tanah yang dilewati. Proses ini berulang dengan ritme yang sama hingga seluruh benih dipastikan tertanam. Setelah tahap ini selesai, para among tani hanya perlu menunggu turunnya hujan. Pada fase tersebut, mereka harus siap menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat menimpa benih padi, seperti dimakan semut, tikus, atau monyet ekor panjang.
Editor : Dian Anjar Nugroho

Njoo
Maturnuwun
Perbanyak artikel binar yang banyak fotonyaa. bagus, semangattt
njoo dap