Handarbeni apa sing cedhak tur isa dicandhak, Rasah Mumet. Bacut teles og!
(Sri Tusilah a.k.a Este CDT)
Seperti hal-hal pada umumnya yang kerap terjadi pada diri Sintas: terdapat beberapa pertemuan yang tiba-tiba terjadi. Sebuah pertemuan yang layak untuk didokumentasikan. Tepatnya, dalam sore yang mendung, sebuah pesan meringsak ke gawai Sintas. Sebuah notifikasi pesan nyelonong lewat aplikasi whatsaap. Jika tak salah melihat, pesan masuk pukul 16.18 WIB.
Tanpa penjelasan yang pasti, si pengirim hanya melayangkan sebuah foto jembatan. Sintas notice dan segera menjawab, “Masih lamakah di situ?”. Si Pengirim gercep menjawab pertanyaan Sintas. Ia menjawab “masih” dan “sini” lewat dua bubble pesan dalam waktu yang sama semenit berselang.
Pertanyaan berikutnya, si pengirim mengirimkan gambar buku Seni, Tradisi, Masyarakat milik Umar Kayam. Ia dapat mandat dari seseorang untuk membaca buku itu. Sedangkan buku itu masih tersimpan di rumah Sintas. Sintas bergegas, mencari buku tersebut dan mendatangi si pengirim.
Sepuluh menit berselang, mereka berjumpa. Buku diberikan, tak sempat membaca, Sintas berdiskusi beberapa hal. Belakangan waktu, si pengirim menyemat nama Ida Mandalawangi. Ia tak sendirian, dibersamai oleh suaminya: S. Tusilah. Beberapa tahun belakangan, mereka berdua bergiat di Desa Petir, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul.
Desa Petir, suatu desa di pojokan Gunungkidul, dekat dengan pantai, dipenuhi batuan berkapur, dan mayoritas bergiat di kebun. Ida dan Tus sehari-hari beraktifitas layaknya warga desa pada umumnya: bertani, berkebun, dan berternak.
Ada beberapa hal yang cukup menarik dengan kegiatan mereka berdua. Pasangan suami istri itu menginisiasi laboratorium. Mereka memberi nama laboratorium itu dengan sebutan Sedusun. Singkatnya, percakapan pun berlanjut, diskusi dimulai. Pasangan suami istri itu bergantian menjawab pertanyaan.
Setelah melepas aktifitasmu di Yogyakarta, kalian sibuk ngapain?

Ya, masih begini-begini saja, Mas. Menikmati hidup di Gunungkidul. Aktif dalam beberapa kegiatan-kegiatan di dusun. Meh ngapain juga, Mas. Hidup, ya, hanya sekali dan ndak usah dibikin ribet. Melakukan hal yang jelas-jelas saja.
Bagaimana kalian adaptasi terhadap lingkungan sekitar?

Kami sedang belajar, trial error mengelola kolektif. Kekuarangan dan keterbatasan pasti akan selalu ada, pasti. Tapi, sebisa mungkin ya tetap optimis saja. Dalam beberapa hal, kita terbiasa memikirkan suatu hal dengan pandangan-pandangan cenderung negatif. Kadang-kadang, hehehe.
Menyenangkan?

Dibilang menyenangkan atau tidak, itu rasanya dinamis. Dan, mungkin lebih ke relatif sih. Tapi, aku merasakan banyak hal-hal baru yang aku dapatkan di Kampungku (Dusun Siyono, Desa Petir, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul). Sebetulnya, kejenuhan itu pasti ada. Beberapa permasalahan juga muncul. Bisa dibilang menyenangkan, bisa dibilang tidak.
Saya melihat, aktivitas di kolektif Sedusun mulai ramai dikunjungi banyak orang yah?

Em, itu jauh di luar ekspetasi kami. Sebetulnya, kami menginisiasi Sedusun juga ndak memiliki visi-misi yang muluk-muluk.
Di sisi personal, sebenarnya spirit apa yang mendorong kalian untuk bergiat di Sedusun?

Dari sisi personal, itu merupakan suatu cara kami untuk merilis keresahan-keresahan tentang kampung halaman. Sedangkan dari sisi komunal, kami sama-sama ingin belajar dengan kawan-kawan yang ada di Dusun.
Lantas, apa tujuannya?

Salah satu tujuan kami adalah ingin agar tiap manusia dapat memahami konteks-konteks yang terjadi di dekatnya. Terutama terkait hidup bermasyarakat. Termasuk juga permasalahan-permasalahan yang muncul di dusun: ekonomi, sosial, budaya, dsb. Handarbeni apa sing cedhak tur isa dicandhak, Rasah Mumet. Bacut teles og.
Mengapa itu perlu dilakukan dan disebarkan?

Rasa bangga atas sekecil apapun hal yang kita miliki perlu dipupuk. Rasa insekyur atas hal-hal stigmatif di Gunungkidul perlu luruh pelan-pelan. Dan, itu bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Barangkali, hal-hal semacam itu dapat dilakukan dalam skup terkecil: diri sendiri dan lokus sekitar (lokal).
Semacam kulakan lokalitas kah?

Sedusun sendiri juga bukan kolektif yang mencoba mengasong hal-hal yang ada di desa, Mas. Barangkali, kami tak memiliki niat untuk menjajakan kampung halaman. Kami hanya ingin menyampaikan saja kepada khalayak bahwa Gunungkidul itu mancawarni. Tak lekat dengan sesuatu yang pasti. Tiap-tiap wilayah memiliki gestur dan karakter masing-masing.
Bagaimana cara kalian mengelola kekurangan dan keterbatasan di dalam kolektif ini?

Kami sedang belajar, trial error mengelola kolektif. Kekuarangan dan keterbatasan pasti akan selalu ada, pasti. Tapi, sebisa mungkin ya tetap optimis saja. Dalam beberapa hal, kita terbiasa memikirkan suatu hal dengan pandangan-pandangan cenderung negatif. Kadang-kadang, hehehe.
Apakah ada kendala yang cukup mengganggu pikiran kalian dalam perkembangan Sedusun?

Perasaan ihwal takut dibenci, takut gagal, takut melakukan kesalahan. Hal itu pasti terjadi dalam hidup yang kami jalani. Tapi, ternyata, apa yang kami rasakan dan lalui tak semenyeramkan bayangan-bayangan yang ada di sebelumnya.
Memiliki kekhawatiran tentang Sedusun?

Sebagai kulawarga baru yang sedang belajar di dusun. Kami pasti memiliki beragam kekhawatiran-kekhawatiran. Oleh karena itu, kami mencoba berjejaring dengan beberapa kawan-kawan kolektif yang lain guna mereguk pengalaman dan pengetahuan dari mereka.
Sedusun itu inklusif atau ekslusif?

Sifatnya tidak ekslusif, kami ingin semua orang belajar. Termasuk diri kami pribadi. Tak ada batasan-batasan tertentu untuk berkunjung. Ekslusifitas terkadang meningkatan branding personal dan kolektif. Tapi, cukup riskan untuk dilakukan. Sebab, biasanya, jika bersifat ekslusif maka timbull jarak dengan masyarakat sekitar.
Siapa saja orang-orang yang terlibat dalam kolektif ini?

Orang-orang yang terlibat dalam berkembangnya Sedusun, ya, tetap masyarakat sekitar. Kami berdua sedang mengupayakan diri sebagai fasilitator saja. Dalam konteks lokalitas, masyarakat sekitar tentu dan bahkan justru memiliki hak mutlak untuk menafsirkan dirinya sendiri.
Apa saja kegiatan di Sedusun?

Ada beragam kegiatan di dusun kami. Itu nggak dibikin-bikin. Bertani, ya, bertani saja. Ke ladang, ya, ke ladang saja. Hanya kami mencoba menganalisasi dan memetakan apa saja yang ada di dusun.
Jika berbicara tentang acara, maka ada beberapa kegiatan seperti Tur de Ngalas, Festival Bedhiding, dan sebagainya.
Dapatkah dijelaskan Tur de Ngalas itu apa?

Tur de Ngalas berguna untuk memahami alur produksi pangan sekitar serta memahami kondisi geografisnya. Acara Tur juga mencoba menjelajahi beragam tempat di area Petir, Rongkop. Setidaknya, upaya kecil-kecilan untuk mencoba tak berjarak dengan realitas sekitar.
Selanjutnya, Festival Bedhiding apakah serupa dengan Tur de Ngalas?

Dalam penjelasan singkat, Festival Bedhiding juga tak jauh-jauh tujuannya dengan Tur de Ngalas. Festival Mbedhiding dilakukan ketika musim kemarau tiba. Mbediding itu semacam kondisi udara yang dingin ketika kemarau tiba. Penampil dalam festival tersebut juga beragam. Dibantu oleh teman-teman Gunungkidul ataupun lewat jejaring yang ada.
Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut tentu memiliki kendala, dapat dijelaskan terkait kendalanya?

Tentu memiliki banyak sekali kendala dan kekurangan. Apalagi Sedusun terbentuk belum begitu lama. Kendalanya, sih, ada di memaksimalkan potensi yang ada, komunikasi, dan mencari sudut pandang-sudut pandang baru yang bisa dilakukan. Menggali beragam potensi yang bisa sustain.
Sebenarnya, dalam menginisiasi kolektif itu bukanlah perkara yang mudah. Nah, kenapa mesti repot-repot bikin-bikin ginian. Apa tujuan kalian ke depannya?

Kembali ke awal dan nggak muluk-muluk. Kami hanya ingin mencoba belajar dan ngabekti kepada hal-hal yang ada di sekitar. Terutama tentang rasa terimakasih kepada hal-hal yang ada di sekitar. Ya, meskipun bila dikalkulasi, manusia tak akan lunas membayar budi yang telah diberikan oleh alam sekitar.
Bagaimana gambaran jangka panjang Sedusun?

Hehe, ndak begitu jauh dan muluk. Kemandirian dan kedaulatan atas segala hal yang ada di sekitar kita. Kita coba mengenali, merasakan, dan mengingat apa-apa saja yang ada di sekitar kita. Syukur-syukur dapat mendongkrak perekonomian lokal. Meski terhitung sedikit demi, tapi, kan ndapapa.
Sebenarnya, percakapan Ida dan Tus tak berjalan sependek itu. Sintas berdiskusi tentang Sesdusun selama satu jam lebih lima puluh delapan menit. Beberapa percakapan membahas tentang isu-isu Gunungkidul yang barangkali dapat di tulis dalam sesi yang berbeda.
Sebab gerimis, percakapan pun berakhir. Ditambah, pasangan itu hendak melanjutkan perjalanan menuju dusun yang mereka cintai itu. Perlu waktu satu jam lebih untuk sampai di Dusun Siyono. Itu pun jika diukur dari tempat mereka bertiga berjumpa. Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin Sintas tanyakan. Tapi, atas kondisi yang kurang tepat, mereka harus mengakhiri percakapan.
Percakapan singkat di atas adalah jelmaan “daya” dalam memahami alam sekitar. Tentu bentuknya beragam, jenis kelompok pun bermacam-macam. Tiap-tiap personal dan komunal memiliki cara untuk ngabekti (berbakti) bagi tanah lahir. Beragam kolektif tumbuh di Gunungkidul. Begitu.

