Aktivitas menanam pohon di Gunung Genthong Gunungkidul

Giat Menanam Pertamaku di Tahun Ini

Bagikan ke :

Pekan pertama tahun ini terasa malas. Hari-hari kering di tahun sebelumnya belum sepenuhnya pergi. Rencana-rencana menumpuk, tak satu pun berjalan. Hingga sebuah pesan masuk ke gawai, mengingatkan: hari ini harus menanam. Aku datang, tanpa banyak mengapa.

Ini kali pertama aku ke Gunung Genthong. Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam dari Jalan Kaliurang. Sesampainya di sana, orang-orang sudah melingkar di bawah Pohon Balabag. Tanda aku datang terlambat. Payah. Aku tak membawa apa-apa. Tak bisa mencangkul. Aku hanya datang.

Bibit dibawa satu per satu. Jumlahnya banyak. Aku tak menghitung, juga tak bertanya apa saja namanya. Payah lagi. Ada pula patok-patok bambu dengan pucuk merah, nantinya ditancapkan di samping bibit yang ditanam. Barangkali untuk menandai: bahwa di titik itu ditanam suatu harapan, dan suatu hari bisa dicek kembali apakah ia tumbuh atau tidak.

Giat menanam hari itu dilakukan oleh beberapa komunitas: Nandurbanyu, Gunungkidul Menginspirasi, Karang Taruna Krida Muda Sumberjo, serta mahasiswa KKN. Kami dibagi dua kelompok: satu menuju lereng gunung, satu lagi di sekitar Pohon Balabag. Aku berputar
di antara keduanya. Hanya memotret. Meski begitu, entah mengapa, aku merasa bahagia.

Gunung Genthong terletak di Dusun Manggung, Desa Ngalang, Kapanewon Gedangsari. Pada sebuah plakat tertulis bahwa tempat ini merupakan papan pelaksanaan upacara nyadran. Dalam sebuah unggahan akun @daksina_arga tertanggal 16 Januari 2026, disebutkan bahwa Gunung Genthong adalah salah satu petilasan Brawijayan Majapahitan di Gunungkidul.

“Petilasan berada di lereng Gunung Genthong, di seberang area persawahan, di sebuah ‘hutan keramat alami’ dengan aneka jenis pepohonan khas seperti balabag, laban, dan kêpuh. Ritus nyadran atau Sadranan dilaksanakan oleh masyarakat setiap perulangan tahun periodik, sebagai penghormatan pemuliaan leluhur ‘bibit kawit cikal bakal’.” 

Dari sekian banyak petilasan Brawijayan Majapahitan di Gunungkidul, sebagian besar memang berada di wilayah yang tinggi. Barangkali itulah sebabnya Gunungkidul dan folklore Majapahitan tampak seperti sepasang kekasih: saling melekat, mengalir dalam keseharian wong gunung. Karena Gunungkidul itu sendiri sudah “tinggi.” Maka, giat menanam pada Minggu, 4 Januari 2026 itu, rasanya bukan sekadar kerja ekologis, melainkan juga upaya merawat kesadaran: kesadaran diri, sejarah, dan kesadaran hidup itu sendiri.

Ya menanam pohon, ya menanam kesadaran. Sebagai orang yang tak cukup pandai mencerna narasi-narasi hijau yang kerap berseliweran di media, aku tak bisa banyak bercerita. Aku hanya berpikir sederhana: aku harus tetap hidup. Dan hidup berarti bernapas. Agar bisa bernapas dengan baik, aku menanam pohon. Itu saja.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *