Di tahun kedua ini, Festival Bedhidhing mengusung tema “Padatan Padinan” yang, menurut warga, berarti adat keseharian atau apa-apa yang telah menubuh menjadi bagian dari hidup. Selaras dengan semangat Padatan Padinan itu, Festival Bedhidhing tahun ini digelar di antara rumah warga, dari warga, untuk warga.
Hari pertama dari dua (12/9/2025) Festival Bedhidhing diawali dengan kepyakan. Artinya, festival ini dikepyak (baca: dibuka, dimintakan restu) oleh warga dusun, sejatining diri festival itu sendiri. Tak seperti pembukaan festival yang nge-trend-nya mempersilakan hadirin duduk di kursi bertenda biru, pada malam itu hadirin diajak bersila, melingkar di atas bentangan tikar.
Bukan berarti tiada hadirin terhormat; justru menurutmu dengan bersila bersama, Festival Bedhidhing tidak berjarak dengan dirinya sendiri. Dengan “bersila” seperti yang umumnya dilakukan warga setiap harinya, ada jati diri yang sedang dirawat, yang menyadarkanmu bahwa apa-apa yang mendarah daging, yang menjadi padatan padinan, adalah sesungguhnya “diri” yang seyogianya lebih terhormati. Dengan begitu, “bersila” adalah laku pangeling-eling tentang dari mana hidup berasal, bagaimana hidup telah berjalan, dan menuju ke mana kemudian.
Semoga Selamat, Semoga Sampai ke Hati
Dalam sebuah festival, bagimu, segala yang ditangkap oleh indera—segala yang diraosaken—mengingatkan suatu pesan, suatu pemahaman, suatu ilmu pengetahuan; tak terkecuali cita rasa makanan dan bagaimana ia dihidangkan. Pada perhelatan malam itu, makanan lebih dari sekadar upaya nguwongake warga. Ia adalah bagian dari kausalitas wacana Padatan Padinan. Oleh karena itu, kau pantas meyakini: cara penyajiannya pastilah dipertimbangkan.
Pertama-tama, seperti lumrahnya kepyakan, sebuah tumpeng diletakkan di tengah lingkaran persilaan, tentu saja beserta ingkung di sebelahnya. Mbah Kaum yang bersila di sebelah meja prasmanan memanjatkan doa, diikuti oleh warga yang khusyuk menundukkan kepala: nyuwun pangestu, semoga festival lancar dan sampai ke hati.
Dua macam bahasa, satu niat yang sama, menembus langit. Dunia pun hening sebentar, dan hembus angin menyusup ke sela jemari, lalu entah mengapa panjeran berbunyi lebih kencang. Ada liyan yang turut menjadi hadirin, dan semestinya memang begitu, kan? Maturnuwun, katamu dalam hati. Maturnuwun masih hidup, masih berani, masih ada kasih sayang. Amin.

Setelah doa diamini dan pucuk tumpeng terpotong, warga dipersilakan dhahar olahan dusun yang dihidangkan di meja prasmanan. Oseng-oseng, jangan lombok, tempe dan tahu bacem, hingga thethelan ingkung tersaji rapi. Antrean pun memanjang dan kau berdiri paling belakang.
Berdiri di antara tetua, di antara orang-orang yang berani hidup, di antara orang-orang yang barangkali tak pernah meninggalkan tanah kelahirannya meskipun kerentanan pertanian bertengger saban waktu. Barangkali pula mereka adalah orang-orang yang berulang kali kecewa karena gagal panen, namun tetap mencintai alamnya.
Beginilah cinta bekerja. Bahkan dalam hidup yang menunggu itu, kau masih mendengar lirih suara warga yang saling bercakap tentang hewan peliharaan, hasil pertanian, hingga kesehatan keluarga masing-masing. Percakapan yang sering kali dilahap sadisnya pekerjaan itu pun memelukmu saat dingin mulai luruh ke sekujur tubuh.
Ulang-alik Sebuah Kilasan.
Ketika kau dan warga mengantre, segenap karang taruna menyiapkan ubarampe pemutaran film. Layar didirikan di tengah jalan setapak; tidak lebar, namun cukup untuk membuat tawa warga berkelakar—yang segera menjalar, terlebih ketika seseorang yang dikenal warga ditampilkan: barangkali cucunya, anaknya, tetangganya, atau dirinya sendiri di lain sisi. Seperti misalnya ketika film pertama—kilas balik Festival Bedhidhing 2024—diputar.

Kau yang tak menahu perihal tahun lalu tentu dengan saksama mengamati narasinya, sejarahnya: perihal song, perihal panjeran, perihal mulabuka festival. Sejenak mengalami linimasa untuk membaca yang kini, begitu barangkali? Seperti sebuah kalimat di buku merah, bahwa seni yang revolusioner adalah seni yang pandai mempercakapkan masa lalu dan masa kini. Begitu pula dengan bagaimana “diri” seyogianya diposisikan ketika menghadiri sebuah hajatan. Diri (sebagai penonton) juga harus pandai mempercakapkan keduanya. Mbok menawa, dengan begitu, insyaallah, apa sing digoleki bakale ketemu, apa sing lali bakal dielingke.
Setelahnya, di film kedua, kau tenggelam dalam sebuah cerita tentang sepasang anak muda yang belum lama menikah dan sedang menimang masa depan keluarga: antara merantau atau menetap dan hidup seadanya. Orang itu, yang diperankan Lik Kris, bimbangnya bukan main. Keringnya lapangan pekerjaan membuatnya ingin ikut merantu pria berkepala gundul ke kota; tentu agar mendapat upah layak demi kelahiran sang anak. Namun, di sisi lain, meninggalkan istri yang sedang mengandung adalah perkara gegabah pula. Aih, ini keseharian kita, kan?
Kau tahu? Di pertengahan, orang itu memutuskan untuk pergi, segenap barang sudah dikemasi—jemarimu pun langsung meremas tikar. Bajirut, batinmu, bukankah lebih keren jika sebelum menimang yang tersayang, lebih baik menimang nasib masing-masing, kan? Untungnya, di perjalanan, lamunan orang itu menampakkan seorang anak kecil: barangkali itu anaknya kelak, sehingga ia memutuskan untuk kembali pulang, kembali ke yang disayang.
Film pun selesai, pranatacara mengakhiri acara. Lalu malam menjadi sebuah pintu yang melepas warga satu per satu. Beberapa warga menyempatkan diri melihat pameran, beberapa yang lain menghilang di ujung jalan. Dan kau, masih bersila di tikar. Entah apa yang kau cari, entah apa yang matamu tuju. Satu-satunya kejelasan hanyalah: tetaplah berani, tetaplah menjadi diri sendiri, meskipun kelak kita akan berakhir sebagai senyap.
Editor: Dian Anjar Nugroho
