Zaman Gaber: Tanah dan Tubuh yang Dipindahkan (I)
Zaman Pegaber, Kenangan Pahit Bagi Penduduk Gunung Kidul. Trim Sutidja, Majalah Intisari (Dok. @zustama)

Zaman Gaber: Tanah dan Tubuh yang Dipindahkan (I)

Bagikan ke :

Dalam sebuah arsip tentang zaman gaber di Gunungkidul tercatat kalimat yang mengguncang: “nasi di atas tungku bisa diangkat orang.” Di bagian lain disebutkan harga tanah merosot hingga satu meter persegi setara dengan satu kilogram tepung gaplek. Catatan-catatan ini menggambarkan situasi ketika kelaparan menggerus batas kepemilikan: rumah tidak lagi aman, tanah kehilangan nilainya, dan warga desa terdorong meninggalkan kampung untuk mengemis di kota. Bahkan dalam kondisi tertentu, anak-anak dipertukarkan demi mempertahankan hidup keluarga. Peristiwa ini didokumentasikan oleh Trim Sutidja melalui tulisan berjudul “Zaman Pegaber, Kenangan Pahit Bagi Penduduk Gunung Kidul,” yang dimuat di Majalah Intisari pada Januari 1970.

Zaman Pegaber, Kenangan Pahit Bagi Penduduk Gunung Kidul. Trim Sutidja, Majalah Intisari (Dok. @zustama)

Catatan Sutidja membuka kemungkinan untuk membaca kelaparan sebagai peristiwa yang berpotensi mengubah relasi ekonomi di desa. Beberapa petunjuk dalam arsip itu: harga tanah yang jatuh, perpindahan kepemilikan, serta kemunculan “tuan tanah baru” menjadi isyarat adanya perubahan dalam cara tanah, tenaga kerja, dan bahkan tubuh manusia masuk ke dalam logika pertukaran sebagai akibat dari produksi pangan yang tidak lagi mampu menopang kehidupan.

Politik Rasa dan Pangan Darurat 

Dalam arsip tersebut, “gaber” digambarkan sebagai makanan tanpa rasa yang berasal dari ampas singkong setelah patinya diperas. Residu yang tersisa dikeringkan, lalu dijadikan pengganti gaplek. Gaber yang sebelumnya tidak dianggap sebagai makanan pokok itu berubah fungsi menjadi bagian dari konsumsi harian orang Gunungkidul. Sutidja bahkan mencatat bahwa ternak kerap memuntahkan makanan tersebut (dalam bahasa setempat disebut nggaber). Namun dalam situasi paceklik, gaber yang ditolak oleh ternak itu tetap dimakan oleh manusia karena pilihan pangan semakin terbatas. Menariknya, arsip tersebut juga menyebut bahwa gaber yang beredar di Gunungkidul pada masa itu tidak seluruhnya diproduksi secara lokal. Sebagian justru didatangkan dari daerah Purworejo, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa konsumsi gaber lahir dari peredaran komoditas pangan lintas daerah. 

Zaman Pegaber, Kenangan Pahit Bagi Penduduk Gunung Kidul. Trim Sutidja, Majalah Intisari (Dok. @zustama)

Peralihan dari gaplek ke gaber dengan demikian memperlihatkan perubahan dalam kualitas sekaligus sumber pangan orang Gunungkidul. Gaplek, yang saat itu menjadi sumber energi penting di wilayah Gunungkidul, digantikan oleh residu olahan singkong yang secara nutrisi jauh lebih rendah. Dalam kondisi begini, pemilihan makanan semata-mata berdasarkan ketersediaannya. Tak heran jika Sutidja juga mencatat munculnya gejala kekurangan gizi pada anak-anak, seperti rambut yang berubah kemerahan dan jarang, kondisi yang dalam catatan tersebut dikaitkan dengan pola makan yang sangat terbatas, termasuk konsumsi petai cina yang terlalu sering. 

Peralihan Kelas dan Lahirnya “Tuan Tanah Baru”

Dalam arsip tersebut tercatat pula bahwa harga tanah merosot hingga satu meter persegi hanya setara dengan satu kilogram tepung gaplek: bahan makanan yang mungkin hanya untuk beberapa hari saja. Catatan ini memperlihatkan bagaimana tanah sebagai basis produksi dan sumber keamanan ekonomi keluarga petani, kehilangan nilainya ketika krisis berlangsung. Dalam pembacaan saya, kemarau panjang membuat tanah berhenti berfungsi sebagai sumber produksi pangan jangka pendek. Sehingga ketika panen gagal dan cadangan makanan habis, tanah tidak lagi dipertahankan sebagai investasi masa depan, ia akan dilepas untuk memenuhi kebutuhan makan harian-mendesak.

Zaman Pegaber, Kenangan Pahit Bagi Penduduk Gunung Kidul. Trim Sutidja, Majalah Intisari (Dok. @zustama)

Persoalannya, tekanan subsistensi mendorong proses transaksi tanah yang terjadi pada zaman gaber berlangsung dalam kondisi daya tawar darurat. Pihak penjual berada di bawah tekanan kebutuhan makan harian-mendesak, sementara pembeli umumnya memiliki cadangan modal atau akses terhadap bahan pangan. Situasi ini membuat harga tanah jatuh di bawah nilai normalnya. Alhasil, sebagaimana yang tertulis di arsip tersebut, banyak “tuan-tuan tanah baru” bermunculan setelah masa paceklik “berlalu”. Istilah “tuan tanah baru” itu menunjukkan bahwa krisis mengubah komposisi kepemilikan di pedesaan. 

Dengan ini, kita diberi petunjuk bahwa, paceklik bekerja sebagai mekanisme diferensiasi sosial: sebagian rumah tangga kehilangan basis produksinya, sementara sebagian lain justru memperluas kepemilikan tanahnya. Efeknya, tanpa lahan, mereka kehilangan sumber pangan sekaligus pijakan sosial di desa. Sebagian jadi masuk ke arus migrasi, sebagian menjadi buruh, sebagian lain terlempar ke posisi yang semakin rapuh. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki cadangan modal, krisis membuka peluang akumulasi. Tanah yang dilepas dalam tekanan lapar pun terkonsentrasi di tangan yang lebih kuat secara ekonomi. 

Sampai di sini, perlu saya sampaikan bahwa, kemarau panjang dan serangan hama memang menjadi salah satu sebab terjadinya paceklik, namun jika seseorang bertanya: mengapa zaman gaber bisa terjadi? jawablah dengan menghentakkan telunjuk ke satu arah, negara! 

Lanjut bagian dua. 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *