
The Melting Minds
Langkah The Melting Minds merilis “Lir-Ilir” bukan sekadar proyek musik belaka, melainkan sebuah pernyataan sikap. Lagu ini hadir di tengah perjalanan mereka dari band psychedelic rock menuju band yang lebih spiritual dan transformatif. Musik yang mereka sajikan bukan hanya tentang eksplorasi suara saja, tetapi juga tentang perjalanan membongkar, menelanjangi, dan akhirnya menyembuhkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kesembuhan individu (manusia).
Bagiku, lagu ini datang di saat yang tepat. Aku merasa ada sesuatu yang istimewa sejak pertama kali mendengarnya dalam pertunjukan The Origin, Kamis Wage, 15 Agustus 2024, di Performa Artog. Saat itu, “Lir-ilir” bukan hanya sebagai lagu penutup, tetapi juga sebagai semacam “ritual” pelepasan. Sebuah lagu yang terasa seperti perayaan sekaligus permulaan. Aku menantikannya dengan penuh harap, membayangkan bagaimana lagu ini akan terdengar dalam versi rekamannya.
Namun, akhir Januari menjadi lebih berat dari yang kubayangkan. Tepat sehari sebelum “Lir-Ilir” dirilis, aku masuk rumah sakit dalam kondisi tubuh yang begitu lemah. Lima hari di sana terasa seperti kehilangan kendali atas hidupku sendiri. Pada tiga hari pertama, aku merasa putus asa. Aku lelah, aku ingin menyerah, dan di depan bapak serta ibuku, aku mengungkapkan itu berkali-kali.
Aku bahkan tidak benar-benar menyimak saat “Lir-Ilir” pertama kali dirilis. Hingga pada 29 Januari, ketika tubuhku mulai menguat, aku memutuskan untuk mendengarkannya. Saat itu pukul 17.35, langit di luar jendela rumah sakit perlahan berubah keemasan. Aku membuka Spotify, menekan tombol putar, dan membiarkan lagu itu mengalir. Lir-ilir…Lir-ilir….Tandure wus sumilir….
Belum genap 30 detik, air mataku jatuh. Aku tidak bisa menjelaskan mengapa. Ada sesuatu yang begitu dalam, begitu primal, seolah lagu ini berbicara langsung pada jiwaku. Aku mendengarnya berulang kali, membiarkan setiap nada meresap dalam diriku. Aku teringat momen pertunjukan The Origin saat itu, ketika semua personel The Melting Minds berpelukan di atas panggung. Aku ingat bagaimana mereka saling melebur dalam satu energi yang sama. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku berpikir tentang kesembuhan.
Aku sadar, aku harus melawan. Aku harus bertahan. Jika lagu ini berbicara tentang perjalanan spiritual menuju kebangkitan, maka aku ingin menjadikannya pijakan untuk bangkit dari keterpurukan. Aku tidak bisa terus membiarkan diriku tenggelam dalam kelelahan dan ketakutan. Aku harus mencari jalanku kembali.
Tanpa ragu, aku membuka notes di ponsel dan mulai menulis. Aku menuliskan segala yang kurasakan setelah mendengarkan lagu ini. Bukan hanya tentang musik, tetapi tentang bagaimana sebuah lagu bisa menjadi titik balik. “Lir-Ilir” bukan sekadar tembang klasik atau sekadar rilisan terbaru The Melting Minds. Bagi orang lain, lagu ini mungkin adalah pengingat spiritual, panggilan untuk kembali ke akar. Tapi bagiku, “Lir-Ilir” adalah nyala kecil yang membawaku kembali ke kehidupan.
“Lir-Ilir” sebagai Medium Kembali ke Akar
The Melting Minds tidak pernah lepas dari identitas lokal yang kuat. Identitas tersebut dapat dilihat dari album debut mereka. Di album debut tersebut, terdapat keterikatan yang kuat antara The Melting Minds, Gunungkidul, dan budaya yang melingkupinya. Oleh karena itu, memilih “Lir-Ilir” yang merupakan tembang klasik dengan akar sufistik Jawa, adalah cara yang tepat dari The Melting Minds dalam mengajak pendengarnya kembali ke sesuatu yang lebih esensial.
Mereka seolah ingin bertanya: dalam perjalanan yang terus bergerak ke depan, adakah ruang untuk menengok ke belakang? Bukan dalam konteks nostalgia, tetapi lebih pada memahami kembali dari mana semuanya bermula.
Sunan Kalijaga menulis “Lir-Ilir” sebagai lagu dakwah yang penuh dengan simbolisme kebangkitan spiritual. Dalam konteks The Melting Minds, lagu ini bisa jadi semacam ritual bagi mereka dan pendengarnya untuk kembali ke inti yang lebih murni dari kemanusiaan.
Musik sebagai Ruang Penyembuhan
Musik bukan hanya sebagai medium ekspresi, tetapi juga sebagai sarana penyembuhan. Seperti halnya “Lir-Ilir” di tangan The Melting Minds. Di tangan mereka, lagu tersebut disulap menjadi mantra, sebuah pintu yang membuka kesadaran baru.
Jika melihat bagaimana perjalanan musikal mereka berkembang, ada pergeseran dari eksplorasi sonik yang liar ke sesuatu yang lebih bernuansa ritualistik. Ini menarik, karena di saat banyak musisi berlomba untuk tampil lebih kompleks secara teknis atau lebih eksperimental dalam produksi, The Melting Minds justru memilih jalan yang lebih sederhana dan spirituil. Mereka seakan-akan ingin mengatakan bahwa, ada sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar inovasi sonik, yaitu kejujuran dan koneksi dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Dilibatkannya anak-anak dalam rekaman lagu ini bukan sekadar sebagai estetika saja, tetapi menjadi semacam pernyataan bahwa musik bukan hanya milik musisi dan orang dewasa. Musik adalah milik semua orang, dan dalam hal ini, The Melting Minds mengajak anak-anak sebagai sebuah simbol harapan. Hal ini juga menunjukkan bahwa The Melting Minds tidak sekadar melihat musik sebagai sesuatu yang eksklusif dan elitis, tetapi sebagai sesuatu yang mengajak tumbuh bersama.
The Melting Minds memilih untuk merekam lagu “Lir-ilir” tersebut di tempat terbuka, bersama orang-orang yang bukan musisi profesional. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap proses yang organik dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini terasa seperti perlawanan diam-diam terhadap industri musik yang semakin individualistis. Sebab, sekarang banyak sekali musisi yang proses kreatifnya semakin personal (eksklusif), dalam ruang tertutu,,dan dengan teknologi yang terlampau canggih.
Keberlanjutan Sebagai Bagian dari Musik
Keputusan The Melting Minds untuk menyalurkan seluruh royalti lagu “Lir-Ilir” bagi konservasi alam dan bantuan sosial di Gunungkidul, adalah perwujudan dari keyakinan mereka bahwa musik bukan hanya tentang bunyi, tetapi juga tentang dampaknya terhadap sosial. Bagi mereka, musik tidak seharusnya berhenti di pengalaman estetis saja, melainkan harus menjadi kekuatan yang dapat membawa perubahan baik bagi kehidupan.
Sebagai seorang pendengar sekaligus penulis yang mengamati perjalanan mereka, aku benar-benar salut dengan langkah ini. Di dunia musik independen, di mana idealisme kerap berbenturan dengan realitas ekonomi, The Melting Minds justru memilih jalan yang tidak mudah. Mereka memilih musik bukan sekadar medium ekspresi, tetapi juga medium yang mampu menumbuhkan ruang kesadaran, sekaligus memastikan bahwa musik mereka memberi manfaat yang konkret. Respect untuk mereka yang berani melampaui batas antara seni dan aksi sosial!.
Momentum yang mereka bangun sebelum perilisan “Lir-ilir” menjadi semacam petanda bahwa The Melting Minds sedang memasuki fase baru. Setelah eksplorasi intens pada album pertama, mereka kini memasuki fase yang lebih ritualistik, mendekati makna transendental.
Bisa jadi ini adalah petanda bahwa The Melting Minds sedang meninggalkan pola bermusik yang semula berorientasi pada eksplorasi eksternal, ke sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang lebih berhubungan dengan batin, spiritualitas, dan keterhubungan manusia dengan alam dan komunitasnya.
Pemilihan lagu “Lir-Ilir” ini tentu tidak sembarangan. Sebab, ini menjadi simbol perjalanan baru, bukan hanya untuk The Melting Minds, tetapi juga bagi pendengar mereka. Ada kesadaran bahwa musik bukan hanya tentang apa yang terdengar, tetapi juga tentang bagaimana ia bisa menggerakkan sesuatu dalam diri manusia.
Dalam dunia yang semakin sibuk, penuh distraksi, dan sering kali kehilangan makna, mereka memilih untuk merilis sesuatu yang sederhana tetapi mendalam. Sesuatu yang mengingatkan bahwa dalam kegelapan yang terus berputar, masih ada ruang untuk cahaya, masih ada tempat untuk kembali, dan masih ada kesempatan untuk menemukan kemurnian sejati.
The Melting Minds – Lir-Ilir
Oleh: Khoirunnisa Dyah A
![]()
Seorang perempuan yang hobi menulis ugal-ugalan, punya ketertarikan besar di dunia seni dan musik. Selalu berusaha tetap produktif dan berkarya yang seringkali terinspirasi dari keresahan yang ada.
Editor: Dian Anjar Nugroho