(Foto: Pratisara Bumi Foundation)
Sedusun di Women Ecopreneurs Market Day (Foto: Pratisara Bumi Foundation)

Sedusun: Tangan-tangan yang Memilih Tinggal di Gunungkidul

Bagikan ke :

Ada yang ganjil dari stan nomor sekian di Women Ecopreneurs Market Day, Sudamala Resort, Sanur, Bali, 9 Mei 2026 lalu. Di tengah deretan produk-produk dengan kemasan rapi dan narasi ramah lingkungan yang ditempelkan di mana-mana. Stan itu memajang tas, dompet, dan berbagai perkakas fungsional yang terbuat dari karung semen dan banner bekas. Bukan karung semen yang sudah dicuci dan tampak baru, melainkan yang masih bisa dikenali. Sebuah bekas merek semen tertentu, yang terkadang masih ada sisa font besar-besar di salah satu sisinya. Itu bukan kecelakaan desain. Itu memang sengaja.

Sedusun datang dari Gunungkidul.

Kolektif ini lahir dari situasi yang tidak romantis. Ia lahir dari ekonomi desa yang melorot, pemuda yang pergi ke kota dan tidak pulang-pulang, serta para penjahit lokal yang bingung keterampilannya mau dibawa ke mana. Dari kondisi yang oleh banyak orang dideskripsikan sebagai “masalah”, Sedusun justru melihat sesuatu yang lain, bahan baku yang terbuang dan tangan-tangan yang terampil tapi menganggur. Dua hal itu mereka pertemukan, dan hasilnya mereka beri nama “Giat”.

(Foto: Pratisara Bumi Foundation)
(Foto: Pratisara Bumi Foundation)

Giat by Sedusun bukan sekadar bisnis daur ulang yang mengikuti tren keberlanjutan. Ia adalah upaya mengaktifkan kembali sesuatu yang hampir mati, yaitu  ekosistem kerja di desa. Kepercayaan bahwa membuat sesuatu dengan tangan di kampung halaman juga bisa menjadi pekerjaan yang layak. Karung semen dan banner bekas adalah bahan mentahnya, tetapi sesungguhnya yang sedang diolah adalah waktu dan nasib orang-orang yang memilih atau terpaksa tinggal di dusun.

Di Bali, mereka hadir dalam Women Ecopreneurs Market Day, sebuah acara yang diinisiasi oleh Women’s Earth Alliance (WEA) bersama Pratisara Bumi Foundation (PBF). Dua puluh stan dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di satu tempat: pengolah hasil pertanian lokal dari Sumatera, pengrajin tekstil pewarna alami dari Jawa, pembuat produk berbasis pemberdayaan komunitas dari Kalimantan. Sedusun adalah satu di antara mereka. Mereka datang dari daerah istimewa yang, bila kita jujur, tidak terlalu banyak disebut dalam percakapan soal inovasi bisnis berkelanjutan.

Ruang Pembuktian Sedusun

WEA dan PBF sudah menjalankan program Women Ecopreneurs Lab sejak 2025. Program ini bukan sekadar pelatihan singkat dengan sertifikat di akhir sesi. Para pelaku bisnis didampingi menggunakan WEA Eco-Entrepreneurship Toolkit (seperangkat alat untuk mengembangkan produk, memperkuat model bisnis, dan mengukur sejauh mana praktik mereka benar-benar lestari). Ukurannya konkret: ada eco-checklist yang mencakup aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi. 

“Market Day menjadi ruang pembuktian bagi mereka,” kata Melisa dari WEA Indonesia.

Di sinilah para pengusaha melakukan riset pasar secara langsung, mendapat masukan dari pembeli sungguhan, dan menjajaki jaringan yang selama ini sulit dijangkau dari desa atau kota kecil. Bagi Sedusun, kesempatan seperti ini bukan hal yang bisa didapat setiap bulan.

(Foto: Pratisara Bumi Foundation)
(Foto: Pratisara Bumi Foundation)

Giat by Sedusun sudah mulai memperluas jangkauannya lewat penjualan online, jaringan reseller, pop-up market. Tapi, Bali adalah ujian yang berbeda. Bali menarik tamu dari berbagai negara, menarik pembeli yang sudah terbiasa memilah mana produk yang benar-benar berkelanjutan dan mana yang hanya bergaya. Di sinilah karung semen itu berbicara dengan caranya sendiri. Tidak ada kemasan yang bisa menyembunyikan asal-usulnya. Bahan itu jelas dari mana datangnya, dan kejujuran itu ternyata justru menjadi kekuatannya.

Aziza, Founder Kriya Kite, salah satu pengusaha yang hadir dalam acara yang sama menyebut suatu hal yang sederhana, tapi perlu untuk dipahami bersama: 

“Harapannya, produk lokal yang dibuat oleh para ibu pengrajin bisa dikenal luas, bisa mengakses pasar sehingga ibu-ibu bisa terus semangat untuk memproduksi jikalau pasar yang disasar tepat.” Kalimat itu berlaku pula untuk Sedusun dan kolektif kecil yang bekerja jauh dari pusat perhatian.

Acara di Sanur itu juga menghadirkan sesi presentasi bisnis, lokakarya pewarnaan tekstil alami, anyaman dari limbah gedebog pisang, serta sesi jejaring. Semuanya dirancang agar para peserta tidak hanya berjualan, tetapi belajar membaca pasar dari dekat. Ini bukan pameran kerajinan biasa yang berakhir dengan foto-foto dan plakat penghargaan.

(Foto: Pratisara Bumi Foundation)
(Foto: Pratisara Bumi Foundation)

Sedusun pulang ke Gunungkidul dengan apa yang tidak bisa dibeli: koneksi, umpan balik langsung, dan mungkin beberapa pesanan. Tapi lebih dari itu, mereka sudah membuktikan sesuatu kepada diri sendiri bahwa karung semen dari dusun bisa berdiri sejajar di antara produk-produk terbaik dari seluruh Indonesia, di sebuah resort di Sanur, di depan mata siapa saja yang mau melihat. Itu bukan hal kecil dan mudah untuk dilakukan.

Penulis: Sintas Mahardika

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *