FSTVLST Resmi Rilis Paradoks Diametral: Hearing Session di Gunungkidul Dipenuhi Pendengar Muda

FSTVLST Resmi Rilis Paradoks Diametral: Hearing Session di Gunungkidul Dipenuhi Pendengar Muda

Bagikan ke :

Kamis Pahing, 30 April 2026. Album ketiga Paradoks Diametral milik FSTVLST resmi diperdengarkan di Warung HL, Gunungkidul, oleh MESINFSTVLST yang berkolaborasi dengan Ruas Jari Collective. Sesi ini menjadi penutup Hearing Session Road Trip II album ketiga mereka, sekaligus penanda perilisan global di berbagai platform digital pada Jumat Pon, 1 Mei 2026.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Sebelum acara dimulai, para kru mengajak para pendengar berbincang terlebih dahulu melalui obrolan ringan: “Ada cerita menarik tidak selama mengikuti atau mendengarkan FSTVLST?” Pertanyaan itu ditanggapi dengan jawaban yang beragam.

“Lelahku hilang, Mas, pas nyanyi lagune neng konser.
Related.”
“Liriknya masuk ke dalam hati, Mas.”
“Pertama dengar langsung jatuh cinta waktu SMP.”

Kebanyakan dari mereka mulai mengenal FSTVLST melalui lagu “Menantang Rasi Bintang”, yang, menurut mereka, memberi kesan mendalam dalam hidupnya.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Di awal obrolan, ada seorang perempuan asal Semanu dengan tato visual art album FSTVLST III.I dan logo FSTVLST di tubuhnya. Alasannya sederhana: karena sejak pertama mendengar, ia langsung jatuh suka.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Kemudian di tengah obrolan yang semakin hangat, mulai berdatangan siswa-siswi SMA/SMK yang baru pulang sekolah dengan seragam abu-abu putihnya. Mereka datang untuk ikut mendengarkan album ketiga ini bersama-sama.
Awalnya, banyak yang mengira pendengar paling jauh hanya berasal dari wilayah “pojok” Gunungkidul seperti Tepus, Rongkop, Girisubo, Semin, Saptosari, atau Ngawen. Namun ternyata ada pula pendengar dari Prambanan yang rela datang jauh-jauh ke Gunungkidul demi mendengarkan album ketiga itu untuk kedua kalinya.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

‎Setelah sesi ngobrol-ngobrol selesai, teman-teman MESINFSTVLST dan Ruas Jari Collective membuka acara dengan doa yang dipimpin salah seorang penonton bernama Mas Farel asal Nglipar. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan suap-suapan.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Saat sesi mendengarkan dimulai, reaksi pendengar terlihat begitu beragam. Sejak lagu pertama, “Tri Esa (Ibid., Op. Cit., Loc. Cit.)”, diputar hingga lagu penutup “Rock Jelek”, para pendengar menikmati setiap lagu sambil ngudud dan membaca lirik yang dibagikan.

Beberapa pendengar bahkan tampak mulai hafal bagian-bagian tertentu dari lagu seperti “Enam Masa”, “Rat Purwa”, dan “Sumpah Galaxy”. Memasuki lagu “Apa Kabar Opus”, suasana mulai pecah. Para pendengar keluar dari tikar lalu mencoret-coret Ivan (mobil milik FSTVLST) dengan berbagai tulisan dan gambar.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Pendengar kemudian diajak bernyanyi bersama melalui lagu-lagu pilihan seperti “Jaferson”, “Enam Masa”, “Doa Lamat-Lamat”, “Rat Purwa”, “Sumpah Galaxy”, hingga “Rock Jelek”. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan menyantap tumpeng bersama. Salah seorang pendengar bahkan berkomentar, “Rasane FSTVLST banget.”

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Suasana semakin riuh ketika Mas Berieroots membagikan stiker. Ia langsung “diserbu” satu kampung FESTIVALIST hingga nyaris kewalahan karena semua orang takut tidak kebagian. Sesi paling akhir ditutup dengan foto bersama. Sampai-sampai kamera terasa tak cukup lebar menampung seluruh orang yang hadir sore itu.

(Doc: Maulana Latif Hanafi)

Bagi saya pribadi sebagai penulis, lagu yang paling berkesan sejak potongan liriknya dibagikan di Instagram adalah “Objek Vital Nasional”. Lagu itu memiliki opening yang terasa magis dan menggema. Terlebih pada bagian lirik:

kecerdasan buatan
mulai bermain Tuhan
‎industri kematian, seks,
dan perhatian
supremasi putih
menghajat layatan
‎perang ketiga mulai
diselenggarakan

Menurut saya, rangkaian lirik yang menyinggung supremasi hingga ancaman perang dunia ketiga itu terasa seperti sebuah peringatan bagi generasi muda, termasuk saya sendiri. Sekaligus menjadi manifestasi doa agar manusia terhindar dari masa depan yang kelam.

Editor: Dian Anjar Nugroho

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *